Home » , , , , , , , , , » Tak Pernah Datang Bulan, Gadis Ini Baru Sadar 18 Tahun Hidup Tanpa Rahim

Tak Pernah Datang Bulan, Gadis Ini Baru Sadar 18 Tahun Hidup Tanpa Rahim

Written By admin on Jumat, 30 Maret 2018 | Maret 30, 2018


Tak Pernah Datang Bulan, Gadis Ini Baru Sadar 18 Tahun Hidup Tanpa Rahim - Jakarta - Haid terjadi sebab luruhnya lapisan dinding rahim tahap dalam yang tidak sedikit mengandung pembuluh darah serta sel telur yang tidak dibuahi. Rebekah Knight (25) dari Irlandia Utara, mengira ia bakal mengawali masa haidnya di saat remaja semacam kawan-kawannya.

Tetapi, seusai menginjak umur 17 tahun, ia tidak kunjung memperoleh haid pertamanya. Rebekah mulai khawatir ada sesuatu yang tidak selesai, tapi ia kemudian hanya berpikir dirinya hanyalah 'sedikit telat'.

Ia mengutarakan kekhawatirannya pada ibunya, Debbie (52), serta akhirnya ia memutuskan untuk berangkat ke pakar ginekolog untuk memperoleh saran. Olehnya, ia dirujuk ke rumah sakit untuk menjalani serangkaian tes.

Seusai menjalani pemindaian Magnetic Resonance Imaging (MRI), diketahui bahwa Rebekah mengalami kondisi langka yang disebut dengan sindrom Mayer Rokitansky Hauser (MRKH), yang berarti ia terlahir tanpa vagina, serviks, alias rahim.

Aku terkejut serta serasa patah hati. Nggak percaya faktor ini terjadi padaku. Apalagi saat aku diberi tahu aku tidak bakal bisa mempunyai anak. Nggak ada kata-kata yang bisa membahasnya," kata Rebekah saat itu, demikian dikutip dari Metro.

Menurut NCBI, sindrom MRKH menjangkit 1 dari 4.500 wanita di seluruh dunia. MRKH adalah salah satu kelainan kongenital di mana tidak terbentuknya kelamin serta organ reproduksi (kandungan, saluran telur serta vagina) pada perempuan. Faktor ini dikarenakan pada masa embriologi alias pembentukan organ saat kehamilan (minggu kesembilan) ada kelainan yang disebut fusi ductus Muller.

Penyebabnya tidak diketahui dengan cara pasti. Biasanya faktor ini ditandai dengan amenorrhea primer, dimana seorang remaja wanita usia 14 tahun belum ada tanda-tanda pertumbuhan seks sekunder (tumbuhnya payudara, rambut kemaluan) serta belum sempat haid.

Atau remaja usia 16 tahun yang telah ada tanda seks sekunder tetapi belum sempat haid. Apabila telah menikah biasanya tidak terjadi penetrasi penis ke dalam vagina (sebab vagina tidak terbentuk).

Pada permasalahan Rebekah, ovarium alias indung telurnya tetap bisa bermanfaat dengan normal. Setidaknya ia tetap mempunyai alternatif mencari rahim pengganti alias adpilihan untuk mempunyai anak.

Sayangnya, seakan tidak tidak lebih kabar kurang baik, dokter juga menyebutkan bahwa Rebekah hanya mempunyai satu ginjal serta membutuhkan operasi untuk merekonstruksi vaginanya sebab ukurannya sangat kecil. Tahap tersebut wajib ditingkatkan supaya bisa bekerja dengan cara normal.

"Aku rutin sedikit takut dengan rumah sakit, tapi aku tahu ke depannya bakal menguntungkanku dalam jangka waktu panjang," tutur Rebekah.

Akhirnya di musim panas tahun 2013, ia menjalani dua prosedur. Yaitu yang pertama dokter merentangkan jaringan di luar vaginanya sebelum memakainya untuk prosedur kedua, yaitu merekonstruksi area tersebut untuk melebarkan tahap mulutnya yang tadi berkapasitas kecil.

Lepas operasi, ia sembuh total serta tidak mengalami infeksi apapun, tetapi ia wajib menghabiskan waktu selagi 12 hari terkungkung di rumah sakit untuk masa pemulihan.

Selain itu, ia juga menghabiskan waktu selagi sebulan menjalani fisioterapi yang keras supaya ia bisa berlangsung kembali sebelum keluar dari rumah sakit.

"Ada berbagai waktu di mana aku bertanya-tanya serta apakah ini pantas serta ini butuh kerja yang amaat keras. Tapi imanku berperan besar dalam menolongku, serta juga tidak sedikit orang dari gereja mendoakanku. Aku percaya Tuhan menaruhku dalam kondisi ini untuk luar biasaku ke kondisi yang lebih baik," kata Rebekah.


Sejak keluar dari rumah sakit, Rebekah tidak jarang memberikan perjalanannya mengalami MRKH untuk menolong orang-orang dengan posisi yang sama. Ia pun mendapat tidak sedikit dukungan dari kawan-kawannya dalam grup Facebook.

Berbekal faktor tersebut, ia menulis sebuah buku mengenai pengalamannya berjudul 'The Girl With No..' pada tahun 2015, dua tahun seusai ia dinyatakan sembuh total dari operasi.

Rebekah menyebutkan bahwa, "Aku merasa alami perbuat faktor ini, aku punya kondisi unik serta aku juga ingin menolong wanita lain yang nggak hanya juga punya MRKH, tapi seluruh wanita dengan cara umum supaya mereka juga tahu mengenai faktor ini."

Ia juga mengaku seusai terdiagnosis, lumayan lama ia membisu mengenai keadaannya sebab menurutnya itu sangat personal serta privat. Hanya keluarga terdekatnya yang tahu, serta ia tidak ingin ada orang lain tahu.

Tapi saat ini ia tidak lagi merasa malu mengenai keadaannya serta menyebut berkata dengan orang lain adalah sebuahterapi tersendiri. Saat ini berusia 25 tahun Rebekah berharap bisa berjumpa dengan seseorang serta jatuh cinta.

"Aku nggak terlalu khawatir persoalan hubungan, sebab aku percaya orang yang cocok untukmu bakal tetap menerimamu apa adanya," tutup Rebekah.


Sumber : harianhealth
Share this article :
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Harian365 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger