Home » , , , , , , , , , , , , , , » Peneliti Beberkan Fakta Ilmiah Dibalik Bau Menyengat Durian

Peneliti Beberkan Fakta Ilmiah Dibalik Bau Menyengat Durian

Written By admin on Rabu, 11 Oktober 2017 | Oktober 11, 2017


harian365.com - Durian identik dengan aroma yang menyengat. Peneliti mencari tahu argumen dibalik munculnya aroma tersebut dikaitkan dengan genomnya.

Para ilmuwan di Singapura, Malaysia serta Hong Kong mengidentifikasi apa yang membikin durian bisa menimbulkan aroma khas. Melewati teknologi pengurutan (sequencing) yang canggih, periset di National Cancer Centre Singapore (NCCS) serta Duke-NUS Medical School, memetakan genom (keseluruhan info genetik) dari duren. Mereka menggunakan varietas terkenal, Musang King.

Dikutip dari Next Shark (10/10), mereka menemukan bahwa durian punya kurang lebih 46.000 gen. Ini dua kali lebih tidak sedikit dari manusia. Tidak mengherankan sebab tanaman tidak jarangkali punya gen lebih rumit daripada hewan.


Penemuan yang lebih hebat diketahui ketika peneliti fokus pada methionine gamma lyase (MGL). Itu adalah suatu  enzim yang mengatur produksi senyawa sulfur volatil (VSC) yang mana memicu aroma tidak sedap pada durian.

Mereka menemukan empat salinan MGL dalam genom durian. Sementara tanaman semacam kakao serta kapas hanya punya satu. Peneliti juga memantau bahwa MGL hanya aktif saat buahnya matang.

"Bau durian difotokan sebagai campuran aroma sulfur semacam bawang bombay dengan jejak buah manis serta bumbu sup gurih. Komponen kunci dari aroma durian adalah senyawa sulfur volatil alias VSC, yang cirinya disebut sebagai pembusukan, semacam bawang bombay, telur busuk, semacam sulfur serta bawang merah goreng," ujar Bin Tean Teh, deputi direktur di NCCS serta penulis penelitian.


Luar biasanya, dari penelitian diketahui durian sebetulnya terkait dengan kakao. Seusai menelusuri evolusinya 65 juta tahun yang lalu.

Mengenal genom dari durian dianggap penting untuk konservasinya. Menurut The Straits Times (9/10), ada setidaknya 30 spesies durian lainnya. Sebelas diantaranya bisa dimakan.

Patrick Tan dari Duke-NUS yang ikut dalam studi, berharap bisa meperbuat penelitian lebih lanjut.


"Sayangnya berbagai spesies terancam punah. Kita berharap bisa bekerja sama dengan para pakar di wilayah ini untuk menggolongkan genom spesies lain durian, untuk melindungi keragaman hayati serta menambah wawasan mengenai tamanan hebat ini," ujarnya semacam dikutip dari Nature (9/10).

Adapun studi mengenai durian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Genetics itu didanai S$500.000 (Rp 4,9 milyar) oleh seorang pendonor anonim. Donatur itu mengaku dia sebagai "pencinta durian.




Sumber : harianfood

Share this article :
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Harian365 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger