Home » , , , , , , , , , , , » Guernsey, Surga Pajak Tempat 81 WNI Simpan Rp 18,9 Triliun

Guernsey, Surga Pajak Tempat 81 WNI Simpan Rp 18,9 Triliun

Written By admin on Rabu, 11 Oktober 2017 | Oktober 11, 2017


harian365.com - Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak memkabarhukan 81 WNI memindahkan uang dari Standard Chartered di Guernsey (Inggris) ke Singapura. Transfer yang terjadi pada akhir 2015 itu sebesar US$ 1,4 miliar alias setara Rp 18,9 triliun.

Lantas, kenapa 81 WNI itu menaruh uangnya di Guernsey? 

"Guernsey adalah yuridiksi protektorat Inggris yang pada awalnya kerap dikategorikan sebagai tax haven," terang Pengamat Pajak dari Darussalam, DDTC, saat dihubungi harianhot, Jakarta, Rabu (11/10/2017).

Menurut Darussalam, Guernsey masuk kategori tax haven lantaran tak menerapkan PPN, inheritance tax, capital gain tax serta sebagainya. Bahkan, tarif PPh orang pribadinya adalah flat 20% serta tarif PPh badannya 0%.

"Tidak mengherankan apabila Guernsey dicap sebagai negara tax haven oleh beberapa pihak," jelas Darussalam.

Dia meningkatkankan, sebuahwilayah alias negara disebut tax haven berdasarkan dua kategori. Pertama, menerapkan kerahasian bank yang susah ditembus. Kedua, memberbagi fasilitas pajak yang luar biasa, umpama tarif rendah alias leluasa pajak.


Senada, Direktur Eksekutif Center for Indonesian Taxation Analysis, Yustinus Prastowo, berbicara Guernsey adalah salah satu tax haven di dunia.

"Iya sebagai tax haven, dekatnya ada Jersey serta keduanya si Channel Island," kata Prastowo terhadap harianhot.


Prastowo membahas, tax haven tak jarang disebut juga tax heaven alias surga pajak. Tax haven sebetulnya lebih cocok diterjemahkan suaka pajak, yaitu perlindungan dari pengenaan pajak.


Menurut Prastowo, tax haven lahir sebagai konsekuensi meningkatnya tarif pajak. Istilah ini pertama kali timbul ketika tak sedikit harus pajak di Inggris memindahkan kekayaannya untuk menghindari pajak.

Pasca Perang Dunia I keperluan anggaran dampak kehancuran ekonomi pasca perang mendorong negara-negara untuk menaikkan tarif pajak supaya pendapatan negara meningkat. Tarif pajak pada 1924 bahkan mencapai 72%. Sejak saat itulah tax haven lahir serta tiga kota di Swiss, yaitu Jenewa, Zurich, serta Basel, menjadi pusat penghindaran pajak yang aman.

"Secara umum tax haven didefinisikan sebagai sebuahnegara alias wilayah yang mengenakan pajak rendah alias sama sekali tak mengenakan pajak serta menyediakan tempat yang aman bagi simpanan untuk hebat modal masuk," jelas Prastowo.




Sumber : harianhot

Share this article :
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Harian365 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger