Home » , , , , , , » Reformasi MA, antara Kata dan Fakta

Reformasi MA, antara Kata dan Fakta

Written By admin on Minggu, 10 September 2017 | September 10, 2017


harian365.com - Dalam jumpa pers di KPK, Ketua Muda Mahkamah Agung (MA) hakim agung Sunarto menyebutkan tidak bakal memberbagi toleransi kepada hakim nakal. Tetapi, Komisi Yudisial (KY) tetap sangsi sebab fakta bicara sebaliknya.

"Kalau tidak dapat dibina, dibinasakan saja, buat apa repot-repot, kami tegas sekarang. Prinsip MA tidak toleransi kepada bentuk pelanggaran," ucap Sunarto dalam konferensi pers di gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan pada 7 September 2017 lalu.

Bisa saja MA mengatakan demikian, tapi data KY bicara sebaliknya. Pada semester I 2017, KY mengirimkan 33 rekomendasi hakim pelanggar kode etik ke MA. Dari jumlah itu, 18 di antaranya belum dilaksanakan oleh MA.


Ke-33 hakim tersebut memang meperbuat kesalahan pengetikan setidak sedikit 16 hakim, tidak bersikap profesional setidak sedikit 16 hakim, tidak berperilaku adil setidak sedikit 3 hakim, selingkuh 3 hakim serta tidak menjaga martabat setidak sedikit 1 hakim. 

"Di hari ulang tahun KY kali ini menjadi peristiwa yang cocok bagi seluruh warga KY untuk meperbuat refleksi serta evaluasi diri perjalanan selagi ini sekalgus memproyeksikan di masa depan," kata Ketua KY Aidul Fitriciada pada Ultah KY pada 23 Agustus kemarin.

Tidak lama seusai Ultah KY, KPK meringkus tangan aparat pengadilan yang terlibat korupsi. Yaitu panitera pengganti PN Jaksel Tarmizi serta hakim PN Bengkulu , Dewi Suryana. Sebelumnya, KPK juga meringkus belasan aparat pengadilan dengan beberapa modus. KY pun terhenyak.

"Ini menunjukkan bahwa ini bukan lagi oknum. Tapi ada sistem pembinaan yang tidak berlangsung di MA. Disebut bukan oknum sebab kejadian ini semakin berulang serta rentang waktu yang tidak terlalu jauh," kata jubir KY Farid Wajdi.


Kekhawatiran yang menarik malah muncul dari internal MA, hakim agung Gayus Lumbuun. Ia menyebut kondisi MA dalam kondisi kritis, jadi saatnya Kepala Negara wajib turun tangan.

"'Tsunami dunia peradilan'. Presiden sebagai Kepala Negara diinginkan ikut meperbuat pembenahan kepada seluruh aparatur peradilan dari hakim, panitera serta pegawai administrasi pengadilan, tergolong ceo di semua strata pengadilan dari pengadilan negeri, pengadilan tinggi hingga Mahkamah Agung (MA) dievaluasi kembali. Yang baik dipertahankan, yang kurang baik diganti," kata Gayus.

Tidak sedikitnya hakim yang ditangkap KPK sebab korupsi, membikin masyarakat luar negeri heran. Salah satunya para praktisi hukum Jepang, yang mekualitas adanya hakim korup di luar nalar, sebab pengadilan merupakan lembaga pengadil yang sewajibnya suci 100 persen. Faktor itu merujuk ke hakim Jepang yang tidak sempat terkena sanksi etik, bahkan korup. 

"Bahkan ada hakim yang menerima suap," kata Kobayashi Kazuhiro dari kantor hukum Oh-Ebashi LPC & Partners pada Februari 2017 lalu. 


Meski dilanda 'tsunami pengadilan'--meminjam istilah Gayus Lumbuun--, MA tetap bersikukuh tidak ada sistem yang salah di lembaganya. Hakim serta aparat yang terjaring operasi tangkap tangan KPK, hanyalah oknum belaka.

"Itu oknum. Bagaimana tidak jalan (sistem pembinaan MA). Kami setiap saat ceo ke bawah memberbagi pembinaan. Regulasi, ada Perma Nomor 8/2016 itu ketat sekali," ucap jubir MA, Suhadi.

Tidak hanya korupsi ratusan juta rupiah yang kerap menyeruak, pungutan liar (pungli) juga tetap ditemui di pengadilan. Semacam ditemukan pungutan liar anggaran gambarkopi Rp 5 ribu per lembar di PN Depok. Padahal PN Depok mendapat sertifikat akreditasi penjaminan mutu dengan kualitas A (excelent) dari MA baru-baru ini.

"MA wajib selektif serta tidak terburu-buru memberi apresiasi alias sertifikasi kenaikan kelas bagi lembaga pengadilan sebelum memastikan sistem peradilan yang terbuka serta tidak koruptif berlangsung manjur," kata komisioner Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Ninik Rahayu. 




Sumber : harianhot

Share this article :
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Harian365 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger