Home » , , , , , , , , , » Pandangan Cak Imin soal Islam dan Politik

Pandangan Cak Imin soal Islam dan Politik

Written By admin on Sabtu, 02 September 2017 | September 02, 2017


harhian365.com - Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar mengemukakan analisisnya tentang sejumlah persoalan faktual yang tengah dialami bangsa, di antaranya, kecenderungan mengerasnya pemahaman agama yang dangkal, kemiskinan, ketidakadilan, dan beragam persoalan lainnya.

Politisi yang bersahabat disapa Cak Imin ini bicara di hadapan para mahasiswa Universitas Diponegoro Semarang, Jawa Tengah, Rabu (30/8/2017). Cak Imin memberi tau materi bertajuk 'Membumikan Pancasila dan Islam Rahmatan lil Alamin dalam Sistem dan Lanskap Politik Nasional dan Daerah'.

Cak Imin juga membawa kembali perdebatan klasik soal Islam dan politik, dua faktor yang semestinya dipisahkan alias menyatu? Menurutnya, apabila merunut jejak sejarah Nusantara dan dunia, Islam, dan politik mustahil dipisahkan.

"Sejak kelahirannya, gerakan Islam adalah entitas yang menjadi tahap dari kekuasaan politik, alias dianggap sebagai ancaman bagi kekuasaan yang telah ada. Kompromi, persuasi, koalisi, oposisi, konsensus bahkan perang, adalah tahap integral dalam perkembangan Islam," paparnya.

Maka, lanjut dia, Islam politik janganlah dimaknai sebagai faktor yang negatif. Tetapi Islam politik sama sekali tak identik dengan fundamentalisme. Ia memperkenalkan Islam rahmatan lilalamin sebagai konsep dan 'ideologi' Islam politik, yang harus diturunkan ke dalam program kerja konkret bagi siapa pun yang meyakininya.

"Islam politik adalah Islam rahmatan lil alamin Islam untuk kemanusian,"paparnya

Selanjutnya Cak Imin berbicara dua faktor yang prinsip dalam 'ideologi' Islam rahmatan lil alamin adalah kemanusiaan dan keadilan. Kemanusiaan bermakna rasa belas kasih dan solidaritas terhadap siapa pun yang membutuhkan, apa pun latar belakang agama, sosial, dan politiknya. Sementara keadilan bermakna penegakan hukum seadil-adilnya dan pemenuhan hak mendasar rakyat sesuai konstitusi.

"Maka jangan lagi didikotomikan antara Pancasila dan Islam, kebangsaan dengan Islam. Ada dua kata, 'adil' dalam Pancasila dan ada satu kata 'kemanusiaan'. Telah sejalan dengan cara prinsipil dengan rahmatan lil alamin. Orang-orang yang mendikotomikan Islam dengan Kebangsaan adalah kaum tuna sejarah. Mereka pura-pura lupa bahwa perjuangan kemerdekaan tak sedikit negara Asia Afrika, bahkan negaranya sendiri, adalah kolaborasi solid antara cinta pada Islam dan cinta pada Tanah Air," ungkap Cak Imin.

Ia kemudian membahas bangsa ini berpikir keras menemukan jalan membumikan Pancasila. Harusnya, Pancasila dibumikan bukan dalam ruang hampa, tetapi dalam lingkup yang sekarang penuh problema. 


"Maka, prasyarat dasarnya butuh semakin diperbaiki supaya upaya membumikan dapat manjur. Pertama, tegakkan hukum dan berbagi keadilan. Kedua, penciptaan lapangan kerja dan pemenuhan hak dasar supaya rakyat merasa semakin punya harapan, harga diri dan pikiran positif. Ketiga, teladan dari para pemimpin. Apabila tiga pra syarat dasar ini dapat kami penuhi, membumikan Pancasila menjadi kerja yang lebih sederhana dan lebih mudah," katanya.

Kuliah umum ini dimulai pukul 09.30 WIB dan dibuka oleh Rektor Undip Prof. Yos Johan Mutlak dan dihadiri jajaran akademisi senior, salah satunya Dekan Fisip Undip, DR Sunarto.

Selain itu, hadir Menristekdikti M. Nasir, Mendes PDTT Eko Sandjojo, Menaker Hanif Dhakiri, dan Menteri Pemuda dan Olah Raga Imam Nahrawi.




Sumber : harianhot

Share this article :
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Harian365 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger