Home » , , , , , , , , » Derita Calon Jemaah Umrah dan Lupa Bos First Travel

Derita Calon Jemaah Umrah dan Lupa Bos First Travel

Written By admin on Sabtu, 09 September 2017 | September 09, 2017


harian365.com - Polisi tetap semakin mengusut permasalahan penipuan serta dugaan pencucian uang jemaah umrah dengan tersangka bos First Travel Andika Surachman serta istrinya Anniesa Hasibuan. Saat diperiksa penyidik, bos First Travel itu kerap menjawab "lupa" tanpa memikirkan hidup para jemaah korban yang tetap menantikan untuk mewujudkan mimpi ke Tanah Suci.

Hingga saat ini, laporan jemaah korban penipuan umrah First Travel ke polisi juga semakin bertambah. Duka serta kesedihan para jemaah tidak terukir dalamnya. 

Uang hasil jerih payah yang mereka tabung untuk mewujudkan mimpi ke Tanah Suci menguap tidak berbekas. Padahal tidak sedikit di antara jemaah yang wajib berhutang alias menguras tabungan puluhan tahun demi bayar anggaran umrah yang ditetapkan.


Tengok saja kisah Supriyati, warga Depok itu rencananya bakal pergi bersama suami serta bunda angkatnya. Dirinya dijanapabilan bakal diberangkatkan Mei 2017 dengan anggaran Rp 14,3 juta per orang. Supriyati mengaku uang itu diperoleh dari uang tabungan pensiun suaminya, serta hasil berjualan sayur.

"Itu uang pensiunan suami saya sebab dulu lama kerja sehingga sopir di perusahaan swasta, dua tahun lalu bapak bisa uang 10 juta. Sisanya saya tabung telah lama sekali, saya lupa ditambah juga sama anak saya biar bisa berangkat," kata di kantor Bareskrim gedung KKP, Jl Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, Jumat (25/8).


Kisah senada juga disampaikan Emi Andriyani (58) serta suaminya Maman Warman (66) juga gagal umrah sebab tertipu penyuplai First Travel. Dari uang hasil pensiunan Maman sebagai guru SD, pasangan suami istri (pasutri) ini menabung selagi enam tahun alias sejak 2011.

"Saya mulai menabung sejak suami pensiun," kata Emi saat ditemui di Mapolrestabes Bandung, Jalan Jawa, Kota Bandung, Jabar, Senin (28/8).

Tak hanya mereka, ada pula kisah Nenek Martini asal Padang, Sumatera Barat yang mengumpulkan uang dari hasil jualan telur puyuh selagi 10 tahun. Walau akhirnya ada donatur yang memberangkatkan Nenek Martini, toh tidak semua jemaah seberuntung Nenek Martini.


Salah satu jemaah asal Garut, Jawa Barat, Kayah Rokayah alias Mak Ayah (69) hingga meninggal sebab depresi. Syukuran di kampung halaman pun dikualitas menjadi beban sendiri untuk Mak Ayah hingga akhirnya dirinya jatuh sakit. 

"Yang menjadi catatan bibi saya Almarhumah dirinya pada bulan November dirinya buat selametan, di Garut dari selametan itu bisa ke Jakarta sebab anggapannya bulan Desember berangkat," kata keponakan Mak Ayah, Much Sirojudin Muslim, saat berbincang dengan harianhot, Minggu (27/8)


Berbekal aspirasi bulat segera pergi ke Tanah Suci pada Desember 2016, Mak Ayah pergi ke Jakarta pada November 2016. Tetapi berita keberangkatan tidak kunjung datang. Keberangkatan Mak Ayah bersama empat orang keluarganya malah ditunda dengan argumen yang tidak jelas dari First Travel.

Janji tinggal janji, Mak Ayah tidak kunjung diberangkatkan ke Tanah Suci hingga ajal menjemputnya pada 24 Agustus 2017. "Ibu saya berimpian sekali pergi ke Tanah Suci. Sejak tahun 2015, dirinya mendaftar ke First Travel. Tapi kemarin dengar berita permasalahannya dirinya langsung ngedrop. Dirinya nggak mau pulang ke Garut juga sebab semacamnya dirinya malu sama tetangga di Garut," ungkap Rahmat, putra Mak Ayah di rumah duka di Kampung Tegal Jambu, Kelurahan Pananjung,Tarogong Kaler, Garut.


Tak hanya itu, kesedihan juga diungkapkan sejumlah jemaah korban First Travel yang akhirnya dilarutkan melewati doa bersama di Masjid Al-Hidayah, Pancoran, Jakarta Selatan, pada Minggu, 27 Agustus 2017 lalu. Berbagai dari jemaah terkesan melantunkan ayat-ayat suci sambil menyeka air mata. Jemaah seakan melampiaskan kesedihan di dalam doanya.

"Saya cuma bunda rumah tangga, saya orang susah. Pengabdian sekali saya mengumpulkan uang untuk umrah itu sebab saya sangat ingin pergi umrah," kata Sutimah sambil meneteskan air mata. Sutimah mendaftar umrah melewati First Travel pada Januari 2016 serta dijanapabilan bakal pergi pada Maret 2017.

Begitu dekat dengan tanggal keberangkatan, hampir seluruh korban wajib gigit jari sebab ditunda berangkat. Malahan, mereka kembali ditagih tambahan duit setoran supaya segera berangkat.


Sementara itu, saat diperiksa penyidik bos First Travel mengaku uangnya telah habis. Akhir-akhir ini, bos First Travel kerap menjawab "lupa" saat ditanya soal aset. 

"Saya tidak sedikit memperoleh laporan kalau dirinya tidak sedikit menyebutkan lupa-lupa ya. Sehingga ini butuh dicek kembali, " kata Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto terhadap wartawan di Bareskrim Polri gedung KKP, Jl Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, Jumat (8/9/2017).


Hingga sekarang polisi tetap kesusahan melacak ajaran sertaa jemaah First Travel yang diduga disalahgunakan. Terkait ajaran sertaa ini, Bareskrim telah bekerja sama dengan Pusat Pelaporan serta Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).

"Kalau kooperatif kan dirinya sewajibnya menyebutkan pemakaian sertaanya sekian, penerimaan sertaa sekian," sambungnya.

Dari penyidikan sementara, aset bos First Travel yang terlacak yakni 8 perusahaan, 5 mobil serta 13 rekening. Dalam perkara ini, PPATK menelusuri transaksi ajaran sertaa serta ditemukan duit total Rp 7 miliar dalam 51 rekening. Ada juga transaksi ajaran sertaa ke luar negeri. 




Sumber : harianhot

Share this article :
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Harian365 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger