Home » , , , , , , , , , , » Berkunjung ke Zaman Batu di Kampung Bone

Berkunjung ke Zaman Batu di Kampung Bone

Written By admin on Senin, 11 September 2017 | September 11, 2017


harian365.com - Di Flores tersedia suatu  kampung unik yang tetap alami. Di kampung ini kalian bakal berasa kembali pada zaman batu. Penasaran?

Beragam keindahan yang dimiliki bumi Flores menjadi magnet kuat bagi para wisatawan. Tak hanya alam, pesona budayanya pun sungguh mengagumkan. Kampung Budaya Bena salah satu buktinya. Diperkirakan Kampung Bena telah ada sejak 1200 tahun yang lalu.

Kampung budaya ini terletak kurang lebih 18 Km dari Kota Bajawa, Kabupaten Ngada. Kampung ini semacam tak tersentuh oleh perkembangan zaman. Masyarakatnya tetap menjaga tradisi leluhurnya sejak ribuan tahun yang lalu. Berada di kaki Gunung Inerie dan dikelilingi oleh pepohonan, membikin udara di kampung ini sejuk dan segar.

Tersedia kurang lebih 45 rumah di kampung ini dengan 9 suku yang tak sama. Diantaranya suku Dizi, Dizi Azi, Wahto, Deru Lalulewa, Deru Solamae, Ngada, Khopa, Ago dan suku Bena sendiri. Suku-suku ini nasib dengan damai dengan pertalian saudara yang sangat kuat. Dapat dilihat dari kegiatan bersama semacam gotong royong dalam pembangunan rumah dan agenda adat.

Wilayah Kampung Bena mempunyai bentuk yang unik, yaitu memanjang dari utara ke selatan menyerupai perahu. Bentuk ini adalah cermin dari sifat kerja sama, gotong royong dan kerja keras yang diajarkan oleh para leluhurnya dalam menaklukan alam, mengarungi lautan hingga akhirnya tiba di kampung ini. Masyarakat setempat juga percaya bahwa perahu adalah sarana bagi arwah untuk menuju ke tempat tinggalnya di alam baka.

Tersedia berbagai bangunan yang dianggap penting di Kampung Bena. Semacam Bhaga miniatur rumah yang adalah simbol leluhur dari kaum perempuan. Dan juga ada Ngadhu, yang adalah simbol leluhur laki-laki. Bentuknya mirip dengan payung dengan atap yang terbuat dari serat ijuk dengan tiang yang bermanfaat sebagai tempat menggantung fauna kurban ketika upacara budaya berjalan.

Bhaga dan Ngadhu berada di halaman di tengah-tengah di antara rumah-rumah budaya alias disebut juga halaman Kisanatapat. Upacara budaya yang dilangsungkan di halaman ini adalah upacara sakral. Masyarakat setempat menyakini bahwa leluhur mereka berkomunikasi dengan mereka melewati upacara budaya tersebut.

Bangunan yang juga dianggap penting oleh masyarakat Kampung Bena adalah Batu Nabe. Adalah susunan bebatuan yang dibawahnya tersedia makam leluhur kampung ini. Batu Nabe juga adalah salah satu tempat yang dipakai untuk berkomunikasi dengan nenek moyang. Biasanya dipakai oleh para tetua budaya untuk menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi di kampung.

Mengunjungi kampung ini serasa kembali ke zaman megalitikum. Faktor ini diperkental dengan masyarakat setempat yang sangat menghormati Gunung Inerie. Mereka percaya bahwa gunung ini sebagai tempat bersemayamnya Dewa Zeta yang melindungi Kampung Bena.


Selain gunung, masyarakat setempat juga menghormati batu dan hewan-hewan sebab adalah tahap dari kenasiban. Dengan tak sedikitnya susunan batu yang berasal dari zaman megalitikum yang tertata apik, terus mengangkat kami ke suasana zaman purba. Ditambah lagi dengan pola kenasiban masyarakatnya yang tetap memegang teguh budaya istiadat dan budaya yang diwariskan oleh nenek moyang mereka. 

Untuk menuju ke sini gampang kok, dapat memakai ojek untuk langsung hingga ke lokasi. pengunjung nantinya membeli tiket masuknya seharga Rp 20.000. Uang ini dipakai sebagai donasi untuk warga setempat dan juga pemeliharaan kampung. Yuk, rasakan zaman batu di Kampung Bena.




Sumber : hariantravel

Share this article :
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Harian365 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger