Home » , , , , , , , , , , , , » Tentang Dik Juwita Niza, Penyumbang Emas Wushu di SEA Games 2017

Tentang Dik Juwita Niza, Penyumbang Emas Wushu di SEA Games 2017

Written By admin on Selasa, 22 Agustus 2017 | Agustus 22, 2017


harian365.com - Juwita Niza Wasni boleh saja juara SEA Games, Asian Games, serta dunia. Tapi, bagi keluarga pewushu asal Medan itu tetaplah si bungsu yang tetap kecil. Dik Niza. 

Senyumnya merekah. Suka cita, haru, serta gembira sehingga satu. Tapi, dirinya berusaha untuk tetap membumi. Ada satu keharusan yang harus segera dituntaskannya seusai memastikan emas dari nomor kombinasi nomor nandao serta nangun di SEA Games 2017 Kuala Lumpur. 

Niza bergegas ke kantin. Pewushu 21 tahun itu lantas duduk menghadap pasangan suami istri, lalu mencium tangan mereka dengan sungguh-sungguh. Wasit Amin serta Zainab, pasangan suami istri itu nyatanya orang tua dia, membalas dengan menepuk-nepuk bahunya sembari lirih mengucap selamat. 

Situasi itu bertolak belakang dengan ketegangan Niza sebelum tampil di atas matras di Hall 5 KLCC, Selasa (22/8/2017) siang. Niza tampak gugup serta cemas. Dirinya menantikan giliran tampil di final nomor Nandao serta Nangun dengan membelakangi arena, sesekali menghembuskan nafas kuat-kuat.

Saat giliran tiba, Nizamemberi hormat terhadap barisan dewan juri serta segera menuntaskan koreografinya. Opsi jurus yang rancak diperbuatnya dengan rapi, yang akhirnya terkonfirmasi dengan kualitas tinggi. Kali ini dirinya mengukir angka 9,63, yang ditambahkan dengan kualitas 9,66 kemarin, berarti Niza total mengumpulkan 19,29 poin.

Itu sehingga angka paling atas di nomor Nandao serta Nangun. Lawannya yang terdekat merupakan atlet Vietnam Nguyen Thuy Linh, yang mengumpulkan 19,25 poin. Niza pun meraih emas pertamanya di SEA Games, melengkapi gelar-gelar sebelumnya di Asian Games serta Kejuaraan Dunia.

Wasit serta Zainab yang menyaksikan di tribun penonton bernapas lega. Putri mereka kembali mengharumkan nama keluarga serta negara. Ada perasaan campur aduk, bangga sekaligus lega menyaksikan Niza naik ke podium teratas serta membikin Indonesia Raya bergema di KLCC siang itu.

"Pertama ya cemas, namanya pertandingan. Tapi akhirnya juara ya Alhamdulillah, merasa bangga. Apalagi diputarkan lagu Indonesia Raya, rasanya macam merinding itu. Rasanya sambil menyanyikan Indonesia Raya itu bangga lah gitu," ujar ayah Niza, Wasit, saat ditemui di kantin KLCC.

"Rasa haru iya, gembira juga iya. Tapi sebelumnya kan sangat cemas. Tapi sebab ya semalam telah bisa nomor satu, tetap digabung sama kali ini serta kali ini keluarnya angkanya nomor satu. Jadi, kayaknya udah siap. Aduuuh, kayaknya rasa gemesnya udah agak hilang deh," sang ibu, Zainab, meningkatkankan.

Ya, Niza terbukti telah 21 tahun, tapi dirinya anak paling bontot. Anak keenam dari enam bersaudara. Oleh sebab itu, dirinya sehingga sang pusat perhatian.

"Manja kali terbukti, manja. Ke mana-mana kami terbukti bertiga aja. Sebab dari kecil, dari kelas satu SD, dirinya itu latihan kami bonceng tiga tiap hari. Hingga kelas enam dirinya di olahraga senam," Wasit melanjutkan ceritanya dengan logat Batak yang tetap terasa.

"Nah dari SMP di Wushu, hingga sekarang. Tapi itu tetap kami antar jemput. Dirinya kan terbukti nggak kami kasih naik kereta. Antar jemput semakin tiap hari. Kuliah pun antar jemput," kata Wasit.

Zainab menyebut Niza sehingga kebanggaan besar untuk keluarganya. Semua kakaknya rutin berupaya menyemangati Niza untuk menjadi yang paling baik.

"Semua mendukung kali. Semua berpendapat 'Wah, ini terbukti adik kamilah'. Kami semua terbuktigilnya adek. Mesikipun telah 21 tahun, kayaknya tetap anak-anak aja dianggapnya. Semua perhatian kali sama dia, kalau telepon-teleponan 'adek, semangat adek. Kami doain adek'," ujar Zainab.


Wasit serta Zainab pun berupaya rutin memberbagi dukungan paling baik untuk Niza. Apabila dulu mereka bakal memboncengkan Niza pulang berangkat saat latihan, saat ini Wasit serta Zainab berupaya rutin mendukung langsung di lapangan.

"Insya Allah rutin ikut ke mana aja," kata Zainab.

"Khususnya di Indonesia. Kalau di Indonesia kami tetap ikut, tetap hadir. Kalau ke luar negeri, kadang-kadang kan masuknya itu harus pakai kartu id, sementara kami kan nggak ada kartu," Wasit menimpali.

"Inipun sebab laporannya leluasa masuk makanya kami kemari. Terbukti kalau bisa ya kami harus ikut. Sebab semangat dirinya kan sebab orang tua tadi," ujar dia. 




Sumber : hariansport

Share this article :
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Harian365 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger