Home » , , , , , , » Rencana Besar ISIS Untuk Mengubah Anak-anak Menjadi Pembunuh

Rencana Besar ISIS Untuk Mengubah Anak-anak Menjadi Pembunuh

Written By admin on Sabtu, 26 Agustus 2017 | Agustus 26, 2017


harian365.com - Peringatan: tulisan ini berisi materi yang bisa mengganggu.

Mutassim gugup. Remaja berumur 16 tahun ini belum sempat naik pesawat. Dirinya menonton ke sekeliling, ke arah para penumpang yang sedang menantikan keberangkatan di Bandara Athena, Yunani.
Tapi ia kemudian berusaha untuk yakin. Dirinya meniru saja perilaku para penumpang lain: menyelipkan kartu penerbangan di dalam paspornya dan antri untuk masuk ke dalam pesawat.

Begitu penerbangannya diumumkan, remaja Suriah ini melatih berbagai kalimat bahasa Spanyol yang dirinya pelajari. Pihak berwenang mungkin mengajukan berbagai pertanyaan sebab dirinya memakai paspor Spanyol yang palsu.

Harga paspor itu lebih dari 3.000 euro alias kurang lebih Rp47 juta, yang dibeli dari jaringan penyelundup yang menolongnya ke luar dari Suriah ke Turki dan saat ini ke Eropa.

Sebulan sebelumnya dirinya tetap di Raqqa, menjadi anak buah kelompok yang menamakan diri Negara Islam alias ISIS, dengan penugasan di rumah sakit di kota itu untuk memelihara para petempur ISIS maupun melayani pasien.

Tugas sebelumnya adalah di unit propaganda.

Masa kenasiban yang ingin dilupakannya. Serangan udara, jeritan, pemancungan menjadi masa lalu yang harus dirahasiakan untuk mengawali babak nasib yang baru di Jerman.

Pihak berwenang tidak boleh hingga mengenal kalau dirinya sempat dilatih dan bertugas sebagai Anak Singa kekhalifahan.


Quentin Sommerville saat mewawancarai Mutassim. (BBC)
ISIS sedang dalam awal keambrukan: kelompok militan itu kehilangan wilayah yang sempat dikuasainya di Suriah, Irak, dan Libya. Ambisi untuk membangun kekhalifahan global berantakan.

Tapi kegagalan itu mungkin telah diperkirakan, alias bahkan diantisipasi. Mereka punya rencana cadangan, suatu  kebijakan yang bisa menjamin kelangsungan nasib apabila Raqqa, Sirte, dan Mosul lepas dari cengkraman.

Langkah pertama adalah pembinaan, disusul dengan perekrutan dan kemudian pelatihan untuk menciptakan barisan tentara pejihad anak yang mungkin bakal tumbuh dewasa sebagai seorang militan.

Sebuah generasi masa depan penuh kebencian dari ISIS.

Mutassim bukanlah seorang petarung. Saya menemuinya di suatu  kampung kecil di Jerman, tempat tinggalnya. Dirinya merokok, kebiasaan yang baru dimulainya seusai dirinya meninggalkan Suriah, sebab merokok dilarang ISIS.

Walau kami berjumpa pagi hari, dirinya memperkenalkan bir terhadap saya.

Dia mengaku telah berhenti bersembahyang dan melalaikan keyakinannya.

Sebagai orang yang bertugas untuk menolong di rumah sakit, dirinya juga mengikuti latihan militer yang diharuskan.

Bagi Mutassim latihan itu berjalan selagi 15 hari dan bagi berbagai orang bisa sehingga lebih panjang. Dimulai pukul empat subuh dengan shalat, mereka juga meperbuat latihan fisik dan tempur, yang diikuti dengan pelajaran Syariat Islam.

Sebagai tahap dari latihan, mereka diminta berlari di atas ban yang dibakar maupun merangkak di bawah kawat berduri sementara tembakan berdesingan di atas kepala mereka.

Seorang kawannya berumur 13 tahun yang berasal dari Ghouta timur di dekat ibukota Damaskus, terkena tembakan di tahap kepalanya dan mati. Pengalaman itu disaksikannya ketika Mutassim belum mencapai 16 tahun.

Tidak sedikit kelompok bersenjata di Afrika, Timur Tengah, dan Amerika Selatan yang melatih anak-anak untuk berperang padahal merekrut tentara anak termasuk sebagai kejahatan perang.

Tetapi tidak tidak sedikit yang sukses membikin proses pelatihan itu begitu efisien seperti yang diperbuat ISIS, yang bahkan mengikutkan anak yang baru berumur lima tahun.

Dalam video yang direkam dengan cara rahasia di Raqqa dan diserahkan terhadap BBC, anak-anak tampak gembira berkeliling di suatu  kandang. Di dalamnya adalah seorang pria warga kota itu, Samir, yang dulu bekerja sebagai penjaga toko.

Anak-anak menyaksikan Samir, yang duduk berjongkok dengan kepala tertunduk di tengah kandang. Salah seorang anak menyemprotkan sesuatu kepadanya.

Menurut dakwaan yang dikenakan kepadanya, dirinya melecehkan seorang perempuan Muslim dan mendapat hukuman untuk memberi hiburan terhadap anak-anak, selayaknya seekor fauna di kebun binatang.

Tetapi tidak sedikit anak di Raqqa yang menyaksikan faktor yang lebih kurang baik: pemancungan alias eksekusi hukuman mati.

Para militan dengan cara akurat meperbuat perekrutan untuk memperjuangan tujuan mereka. Bukan hanya dengan janji-janji keselamatan dan surgawi tapi juga berkaitan dengan kepentingan duniawi.

Nasib bersama ISIS bisa sehingga berat dan berbahaya, tetapi bukan tanpa imbalan.

Bagi Mutassim, imbalannya adalah seorang istri, begitulah janjinya. Pada usia 14,5 tahun, dirinya amat ingin untuk menikah tetapi keluarganya tidak setuju dan di sinilah ISIS masuk.

Dia boleh nasib bersama para pria dewasa ISIS, memberinya tanggung jawab sebagaimana orang dewasa, melatihnya untuk menyetir dan dijanapabilan bakal mendapat istri.

Menurut Mutassim, kurang lebih 70% kaum muda yang bergabung dengan kelompok radikal itu mempunyai persoalan keluarga. "Mereka memakainya untuk menekan keluarga mereka, sehingga apakah memenuhi permintaan menikah dan kalau tidak, mereka bakal bergabung dengan kelompok itu."

Dengan terus sengitnya perang , kenasiban di Raqqa terus susah dan Mutassim berbaikan dengan keluarganya, yang mendesaknya untuk meninggalkan Suriah. Mereka bayar penyelundup untuk membawanya ke luar.

Di perbatasan selatan Turki, saya berjumpa dengan penyelundup yang mengatur Mutassim ke luar dari Suriah: Abu Jasen, yang juga berasal dari Raqqa dan mengenal baik keluarga Mutassim.

Dia telah menyelundupkan ratusan pengungsi dan pembelot. Tetapi bagaimana dirinya tahu kalau Mutassim bukan lagi pendukung ISIS? Sebab hubungan dengan keluarganya.

"Apabila datang sendirian ke saya, saya tidak bakal percaya. Bisa sehingga dirinya anak yang telah dicuci otaknya oleh kelompok itu dan ingin mengenal jaringan saya. Tapi saya kenal keluarganya."

Rekaman rahasia mengenai penyeberangan pada malam hari ke Turki yang diberbagi terhadap BBC memberbagi angan-angan mengenai perjuangan yang dialami Mutassim. Dengan menghindari menara pengawas dan lampu sorot, sekelompok warga Suriah sukses melintasi pos perbatasan Turki.

KisahOmar
Mutassim jelas tidak sendirian.

Remaja lainnya -yang sempat bertugas di kekhalifahan di Suriah dan juga di Mosul, Irak- menyeberang ke Belgia.

Omar berumur 17 tahun tetapi dengan mudah bisa dianggap jauh lebih muda, kecuali Kamu menonton ke matanya, yang letih tapi angker. Dirinya ingin tampil sebagai pria yang tangguh dan tetap suka berlagak sebab sempat dikirim berperang oleh ISIS.


Omar bersama seorang perempuan bergaya, untuk digambar. (BBC)
Dia tinggal di Belgia dan telah tiga kali diusir dari penginapan untuk pengungsi sebab susah diatur. Dirinya tampak seperti orang yang susah didekati dan diperlukan waktu berbulan-bulan sebelum dirinya menceritakan kisah nasibnya, dan meski ada yang dilebih-lebihkan, angan-angan mengenai kekerasan timbul juga.

Sambil minum bir rasa buah, dirinya mulai bercerita mengenai ISIS, tetapi jawabannya diatur dengan hati-hati. Meski dirinya anak yang berani, tetapi segera terungkap bahwa sebagian besar waktunya di ISIS adalah kegagalan.

Dia juga berasal dari Raqqa, bekerja di bengkel, dan bergabung dengan ISIS sejak masa-masa awal.

Seusai latihan dua pekan di Raqqa, dirinya dikirim ke Mosul sebagai tahap dari upaya ISIS untuk memperkuat barisan di kota itu dan tinggal di suatu  rumah selagi sepekan.

"Kami sama sekali tidak ke luar dari rumah itu dan mereka meminta kami tidak membuka pintu untuk siapapun."

Mosul mengecewakan sebab mereka berjumpa dengan warga Suriah lain yang telah berada di kota itu selagi dua tahun lebih dan pada saat itu sama sekali tidak mendapat hari libur.

Para warga Suriah tersebut juga berada di medan perang tidak henti-hentinya tetapi hanya mendapat yoghurt, roti, dan kurma.

"Mereka menghabiskan waktu 24 jam tanpa makanan apapun. Tidak ada perhatian khusus untuk mujahidin. Saya dikatakan pada masa pelatihan Syaiah, makanan adalah kentang rebus dan telur untuk sarapan, makan siang dan makan malam dan kadang minyak zaitun dengan Zaatar."

Akhir-akhir Omar tidak sukses menjadi petarung seperti yang diinginkannya.

Dia dikeluarkan dari Jaysh al Khilafa alias tentara kakhalifahan sebab tidak menghadiri kelas pengenalan dengan baik. Dirinya tetap berupaya untuk bergabung dengan brigade pembuat bom tapi juga ditolak.

Akhirnya dirinya ditugaskan sebagai mata-mata, yang termasuk tugas rendahan untuk mengawasi para warga Kurdi, perokok, dan orang-orang yang mempunyai senjata gelap. Dirinya mendapat bayaran uang tunai setiap memberi tau info penting.

Hari-harinya di kekhalifahan agaknya terus dekat dan mencapai akhir ketika seorang pejuang ISIS dari Aljazair menjadikan dirinya sebagai target dengan menuduh dirinya merokok. Waktu itu telah larut malam dan si pejuang memaksa Omar masuk ke tahap kursi belakang mobil dan memerkosanya.

Tetapi Omar tidak berani mengabarkan pemerkosaan itu.

"Saya amat ketakutan dan dirinya berkuasa, dirinya bisa menuduh saya apa saja dan mengangkat saya ke kantor polisi," kenang Omar, yang kemudian memutuskan untuk pergi.

Dia mengaku selamat sebab 'pacar'-nya, seorang perempuan yang lebih tua, memberinya uang.

Omar menegaskan dirinya bukan ancaman bagi orang Eropa, "Mereka dulu musuh saya tetapi kini saya tinggal di tengah mereka, makan, dan minum bersama mereka. Mereka menerima saya dan memberi perhatian pada saya."

Dalam waktu berbagai bulan, BBC menemukan sedikitnya tiga mantan tentara anak ISIS yang tinggal di Eropa. Mereka tidak mau diwawancarai. Kami juga mendekati Kepolisian Eropa, Europol, untuk menanyakan berbagai permasalahan tetapi tidak mendapat komentar.

KurikulumISIS
ISIS selain merekrut anak-anak untuk bertempur di medan perang tetapi untuk masuk lebih dalam ke masyarakat, ke dalam rumah, ruang kelas, dan benak anak-anak muda.

Begitu seorang anak memasuki usia lima tahun, mereka diperkenalkan dengan kosa kata mengenai permusuhan dan kekejaman, seperti terungkap dalam buku-buku sekolah. Mereka menjadi Anak-anak Kekhalifahan dan proses untuk menjadi mujahidin alias 'pejuang suci' telah dimulai.

Kementerian pendidikan menginstruksikan para guru untuk menanamkan 'pendidikan kasih sayang' dengan merujuk kebaapabilan dari nabi seperti 'memaafkan, kesabaran, keberanian, kekuatan, bersandar pada Allah dan seruan berjihad atas nama Allah.' Mereka juga didesak untuk 'menyuntikkan semangat melewati puisi kuat yang menteror musuh-musuh Islam.

Maka anak-anak itu belajar puisi yang sederhana tetapi mengandung kekerasan, yang memuja jihad dan kematian demi Allah.

Ada dekrit pertama yang dikeluarkan oleh kementerian pendidikan kekhalifahan yang baru, yaitu melarang pelajaran musik, pelajaran tata negara, sejarah, olahraga dan materi pelajaran Islam yang disusun pemerintah Suriah.

Sebagai penggantinya adalah doktrin jihad ISIS dan buku mengenai Syariah Islam.

Bulan Juli 2014, Mosul jatuh ke tangan ISIS dan kekhalifahan diproklamasikan.

"Mereka mulai dengan serius pada musim gugur 2014, Diwan (kementerian pendidikan) merekrut para pakar yang setia dan sejalan ideologinya sepanjang musim panas," kata Yousef, seorang guru yang mengalami masa-masa itu, terhadap BBC.

Kurikulum ISIS akhirnya diluncurkan pada tahun pelajaran 2015-2016. Anak-anak masuk sekolah pada usia lima tahun dan tamat 15 tahun, mengurangi masa empat tahun masa sekolah yang biasa.

Para murid mendapat 12 subyek pelajaran tetapi ditingkatkan dengan doktrin Negara Islam ISIS dan pandangannya atas dunia. Jihad dilembagakan dengan memperperbuat semua orang di luar perbatasan kekhalifahan sebagai musuh.

Sepanjang tahun-tahun pertama -terutama melewati pelajaran membaca bahasa Arab- murid terus diingatkan mengenai adanya musuh yang bertekad untuk 'menodai' martabat orang Islam.


Yousef -seorang guru yang sempat mengalami masa-masa ISIS- membicarakan kisahnya terhadap wartawan BBC. (BBC)
Musuh tersebut adalah Rawafidh (Syi'ah), Murtadin (orang-orang murtad, orang Sunni yang tidak mengikuti doktrin ISIS), orang-orang Safawi (Iran), Tentara Salib (Barat), Aliansi Yudeo-Kristen (Tentara koalisi di Suriah dan Irak), PBB dan Toghut (penguasa yang tidak mengikuti syariah). Sejak usia dini, ISIS mengindoktrinasi anak-anak muda dengan keharusan jihad melawan orang-orang kafir dan murtad: mereka harus dibasmi.

Tapi pertama-tama, mereka menegaskan prioritas dengan jelas. Buku Hadist untuk siswa kelas satu, umpama, menampilkan gambar pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi yang dipasang di atas gambar-gambar para petarung ISS dalam suatu  lingkaran, dengan senjata diacungkan -posisi yang dikenal sebagai posisi baiat bersetia terhadap sang kalifah.

Dalam kitab-kitab pengajaran Islam, ISIS mengingatkan para guru mengenai apa yang dipertaruhkan.

Buku-buku juga dijejali dengan aliran Ibnu Taymiyah yang persengketaanal dan Ibn Al-Qayyim, para ilmuwan abad pertengahan yang tulisannya menjadi fondasi ideologi Islam ultrakonservatif dan ideologi Salafi Jihadis. Naskah itu mengungkapkan bahwa anak-anak dari usia enam hingga 11 tahun berulang kali dipapar konsep seperti Al-Wala dan Al-Bara, yaitu mengasihi orang-orang yang mencintai Allah dan membenci orang-orang yang tidak mencintai Allah dan butuhnya berjihad.

Tapi mungkin, sebagian besar subversi ISIS yang paling Machiavellian bisa dilihat dalam tutorial mereka mengajarkan Alquran. ISIS menginstruksikan supaya para guru mengajarkan ayat-ayat Alquran yang dihubungkan dengan konsep jihad lain. Terkadang mereka bahkan diberbagi nomor halaman dan referensi yang pasti.

"Siapkanlah ayat-ayat ini untuk mengajari murid-murid Kamu bahwa tujuan jihad demi Allah bagi orang beriman adalah kemenangan atas orang-orang kafir alias sebaliknya mati di jalan Allah," begitulah salah satu instruksinya.

Pada saat studi mutlak mereka beres, ada kemungkinan praktik sistematis ini membikin anak menghubungkan, alias bahkan mungkin mencampur-adukkan doktrin ISIS dan Alquran. Akibatnya, anak-anak berpendapat umat Muslim lain, yang tidak mengikuti doktrin yang sama, adalah orang murtad.

Akibat dari kurikulum seperti itu pada anak-anak bisa dilihat di suatu  video propaganda ISIS berjudul Melatih Para Calon Anak Singa.

"Siapa emirmu?" tanya narator.

"Abu Bakr al-Baghdadi," jawab Abdullah, bocah Kazakstan yang tampan, umurnya mungkin kurang dari 10 tahun.

"Apa yang kamu inginkan di masa depan, Insya Allah?"


"Aku bakal menjadi orang yang membunuhmu, wahai orang-orang kafir, aku bakal menjadi seorang mujahid. Insya Allah."

Tiga bulan kemudian, Abdullah kembali dalam suatu  video lain dengan mengacungkan pistol dan mengeksekusi dua terduga mata-mata. Seorang bocah polos yang diindoktrinasi telah dipersenjatai, dan menjadi korban dari rekrutmen.

Ada pula bahan wacana lanjutan yang dimaksudkan untuk hebat anak-anak muda yang membacanya supaya menjadi tentara khilafah. Contohnya, seorang anak bertanya terhadap ayahnya mengenai orang-orang bersenjata yang dirinya lihat di masjid setempat.

"Mereka datang dari seluruh dunia... untuk melindungi kekhalifahan dan melawan orang-orang kafir, murtad, dan Rawafidh," kata sang ayah.

"Saya ingin menjadi salah satu dari mereka, ayah," jawab si anak dengan muka berseri-seri.

"Dan engkau bakal menjadi salah seorang dari mereka. Kami bakal menantikan hingga engkau tumbuh besar menjadi seorang pejuang, menyebarkan agama Allah dan membela umat Islam," jawab sang ayah.

Dan begitulah, perjalanan seorang bocah ISIS dalam pembelajaran dasar pun beres.

Status masa depannya yang paling keren mungkin digambarkan di sampul buku wacana ISIS untuk anak usia 11 tahun. Buku itu menampilkan seorang anak yang menyandang senapan di atas bahunya: ia mulai meperbuat perjalanan yang abu-abu dan berkabut dan kemungkinan besar mengarah ke kobaran perang, tempat tekadnya tertempa alias hancur.

Silakan menyimak versi aslinya, dalam penampilan daring yang tidak sama, lengkap dengan video, di An education on terror di BBC.




Sumber : harianhot

Share this article :
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Harian365 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger