Home » , , , , , , , , » Perjuangan Bertaruh Nyawa Siswa di Kolaka Utara Menuntut Ilmu

Perjuangan Bertaruh Nyawa Siswa di Kolaka Utara Menuntut Ilmu

Written By admin on Selasa, 08 Agustus 2017 | Agustus 08, 2017


harian365.com - Rupanya di era serba digital saat ini, tetap ada anak sekolah yang penuh perjuangan untuk menuntut ilmu. Salah satunya merupakan para siswa di Desa Maroko, Kecamatan Ranteangin, Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara.

Setiap harinya para siswa di desa itu wajib menyeberangi sungai yang lebarnya 60 meter untuk ke sekolah. Cuaca merupakan hal penentu lama alias tidaknya mereka hingga ke sekolah.

Merupakan petugas Babinsa TNI berpangkat Sersan Kepala (Serka), Darwis, yang ikut menolong para siswa menyeberangi sungai. Dirinya telah mengabdikan diri dengan tugas itu sejak pertengahan tahun 2012.

"Apabila cuacanya keren, maka anak SD dapat dibantu dengan seniornya yang SMP alias SMA untuk sama-sama menyeberang, tetapi apabila tidak keren maka saya wajib menolong langsung. Apabila saya sedang berada dinas luar, saya telah berkoordinasi dengan gurunya sebab tidak boleh menyeberang sendiri," tutur Darwis saat berbincang dengan harianhot, Senin (7/8/2017).

Alat yang dipakai Darwis sebetulnya sederhana, konsepnya mirip dengan kereta gantung. Hanya saja yang dipakai ini merupakan papan serta digantungkan pada tali. Nyawa sehingga taruhannya apabila tidak hati-hati.

Hal yang membikin siswa di Desa Maroko wajib berjuang semacam itu merupakan sebab tidak ada sekolah di desanya. Sekolah-sekolah mulai dari SD hingga SMA ada di desa tetangga yakni Desa Tino Kari, Kecamatan Wawo.

Tali yang dipakai untuk menggantung papan itu diikatkan pada akar pohon. Tali itu menghubungkan Desa Maroko dengan Desa Tino Kari.

"Talinya itu didapatkan sebab swadaya dari masyarakat setempat," ungkapnya.

Jarak tempuh untuk menuju SD serta SMP kurang lebih tidak lebih dari 3 kilometer. Sedangkan untuk SMA/sederajat bahkan mencapai 6 kilometer.

Penduduk di Desa Maroko setidaknya ada 40 KK. Dapat dibayangkan berapa lama waktu yang mereka butuhkan untuk bergantian naik papan penyeberang di pagi hari serta sepulang sekolah.

Sebetulnya kedalaman sungai saat cuaca cerah hanya kurang lebih 2 meter, tetapi tetap saja dalam untuk ukuran anak seumuran siswa SD. Apabila hujan turun, kedalaman sungai dapat mencapai 6 hingga 7 meter.


Keadaan ini mengingatkan kami dengan jembatan 'Indiana Jones' di Pandeglang, Banten, tahun 2014. Waktu itu para siswa pun wajib bergantian menyeberangi sungai dengan jembatan yang telah rusak.

Kemudian ada lagi warga di Desa Plempungan, Karanganyar, yang naik jembatan 'tipis' untuk menuju Desa Suro, Boyolali, Jawa Tengah, pada tahun 2015. Lalu ada lagi pada tahun 2012 yakni di Desa Bunjamata, Kecamatan Pasangkayu, Kabupaten Mamuju Utara, Sulawesi Barat, di mana warganya wajib ekstra hati-hati menyeberangi jembatan bambu yang telah putus talinya di satu sisi.

Sebetulnya pada tahun 2015, Kemdikbud telah meluncurkan website pengaduan terkait sarana-prasarana maupun jalan masuk ke sekolah. "Jangan bekali anak-anak yang ingin bersekolah dengan risiko tinggi. Masa depan yang cerah dari anak bakal terhenti sebab keselamatannya bakal berisiko. Negara wajib hadir serta negara wajib menghapus risiko tersebut," ucap Mendikbud saat itu, Anies Baswedan, terhadap wartawan di Kantor Kemendikbud, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Jumat (13/3/2015).

Situs itu merupakan sahabat.kemdikbud.go.id, tetapi hanya timbul sedikit tulisan saat harianhot mencoba mengunjunginya. "It works! This is the default web pages for this server. The web server aplikasi is running but no content has been added, yet," begitu tulisan yang muncul. 




Sumber : harianhot

Share this article :
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Harian365 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger