Home » , , , , , , , , , , , , » Masuk Area Taman Nasional, Desa Ranupani Akan Dijaga dan Diawasi

Masuk Area Taman Nasional, Desa Ranupani Akan Dijaga dan Diawasi

Written By admin on Minggu, 06 Agustus 2017 | Agustus 06, 2017


harian365.com - Desa Ranupani di kaki Semeru ikut masuk dalam area Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Oleh sebab itu, Desa Ranupani bakal dijaga serta diawasi. 

Ranupani adalah desa enclave (kawasan kantong) Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS) selaku pengelola lahan konservasi. Wilayah ini berada di ketinggian 2.100 Mdpl, ini pun dalam penglihatan untuk pengolahan lahan, baik itu masyarakat maupun konservasi.

Kepala Bidang Teknis Konservasi BB TNBTS Wahyudi berkata, Ranupani desa enclave yang mempunyai luas kurang lebih 3579 hektare, lebih luas dari desa enclave lain, yakni Ngadas di Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang.

"Di TNBTS ada 2 desa berada dalam kawasan TNBTS jadi disebut desa enclave, yakni Ngadas serta Ranupani. Luas enclave Desa Ngadas kurang lebih 414 hektar, sedangkan luas desa enclave Ranupani 3579 hektare, jadi lumayan luas," ungkap Wahyudi berbincang dengan hariantravel, Sabtu (5/8/2017).

Dijelaskan, masuk desa enclave sebab Ranupani ada lebih dahulu serta menjadi tempat bermukim Suku Tengger. Jadi kehadiran desa tersebut masih wajib ada, mesikipun di sekelilingnya adalah kawasan konservasi yang butuh dilindungi.

"Beda dengan dengan desa konservasi, dimana kegiatannya wajib berbasis konservasi. Namun Ranupani diberbagi ruang pengolahan lahan bagi masyarakatnya, ada pal batas antara lahan dikelola dengan lahan TNBTS," beber Wahyudi.

Diungkapkan, Ranupani bakal menjadi role model berupa kemitraan pengelolaan zona tradisional. Menonton sangat pentingnya kelestarian ekosistem yang berdekatan dengan lahan dikelola masyarakat.

"Hal ini sangat butuh kami kembangkan dengan masyarakat Ranupani, sebab lokasinya yang lumayan tinggi kurang lebih 2000 Mdpl, jadi kebutuhan kayu bakar bakal sangat tinggi, salah satu untuk penghangat ruangan," tegas Wahyudi.


Kades Ranupani Sutamat ditemui hariantravel di kediamannya, mengaku, apabila masyarakat Ranupani ketat menjaga budaya istiadat untuk kelestarian alam. 

"Kita turut mencegah kebakaran hutan, perambahan hutan juga. Kami disini mengolah lahan pertanian dengan hasil kentang, kubis serta brambang prei," beber Sutamat.

Setahu dia, lahan dikelola sejak dulu oleh nenek moyangnya jauh lebih luas dari saat ini. Lahan pertanian menyatu dengan area pemukiman, diketahuinya hanya kurang lebih 500 hektare saja. 

"Dulu direbut penjajah, awalnya luas lahan pertanian dapat dikelola, kini hanya 500 hektare," tambahnya.




Sumber : hariantravel

Share this article :
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Harian365 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger