Written By admin on Rabu, 16 Agustus 2017 | Agustus 16, 2017


harian365.com - Bukan sehari ini Indonesia menjadi baginda rumah Asian Games. hariansport mengundang pembaca melongok gairah Jakarta menyambut Asian Games 1962 sepanjang pekan ini. 

Seusai 56 tahun, Indonesia kembali menjadi baginda rumah Asian Games. Tinggal satu tahun waktu yang tersisa untuk menyambut delegasi negara-negara se-Asia. 

Hitung mundur menuju Asian Games 2018 Jakarta dan Palembang itu bakal digelar Jumat (18/8/2017) di Monas dan Benteng Kuto Besak. Suatu  pesta awal untuk menyalakan api gairah menuju pesta olahraga negara-negara Asia empat tahunan itu. 

Tetapi, sebelum jam digital hitung mundur yang bakal dibidik oleh Presiden Joko Widodo sangatlah dinyalakan, hariansport mengundang pembaca untuk menapaktilasi Asian Games 1962. 

Bagaimana Presiden RI pertama, Soekarno, begitu bergairah menyiapkan Jakarta yang belum mempunyai apa-apa menjadi baginda rumah Asian Games. Bukan hanya belum mempunyai rumit olahraga untuk mengeglar multiajang, tapi Indoensia bahkan belum mempunyai jalan-jalan lebar, hotel modern, dan stasiun televisi. 

Bung Karno dengan ide dan semangat membaranya pun membangun suatu  rumit olahraga di Senayan. Lokasi itu dipilihnya sendiri. 

Selain Stadion Mutlak dengan kapasitas 100 ribu penonton, GBK juga dibekali dengan gedung basket berukuran 3.500 penonton, Istana Olahraga (Istora) yang adalah gedung olahraga dengan kapasitas 10 ribu penonton, stadion renang, stadion madya, dan stadion tenis indoor. 

Kemudian dibuat gedung-gedung olahraga di kurang lebih rumit tersebut sesuai dengan cabang olahraga pada Asian Games 1962. Di antaranya, lapangan voli dan lapangan tenis terbuka. kemudian ditambah dengan perkampungan atlet berupa tiga wisma atlet yang juga ada di Senayan. 

Waktu itu, Senayan belum menjadi pusat kota semacam saat ini. 

Perubahan wajah Senayan dari perkampungan menjadi rumit olahraga paling modern pada zaman itu difotokan dengan sangat detail dalam buku 'Dari Gelora Bung Karno ke Gelora Bung Karno' terbitan 2005. 

"Perjalanan Presiden Soekarno dan tamu negara dan diiringi para menteri berikut perwakilan korps diplomatik di Jakarta menuju ke tempat upacara sore itu agak tersendat. Rombongan wajib menempuh jalan kecil berliku-liku, sebagian tetap rusak sebab mereka terpaksa melewati bekas perkampungan Senayan yang baru saja digusur dan diubah menjadi pusat kegiatan olahraga." 

Peninjauan itu diperbuat 21 Juli 1962 pada peresmian Stadion Mutlak di Senayan sekaligus agenda gladi bersih upacara pembukaan Asian Games. 


Tak hanya di Senayan disulap menjadi suatu  rumit olahraga modern, Jakarta tahap lainnya dipoles menjadi suatu  kota metropolitan dengan listips dan air yang melimpah. 

Dari ebrbagai referensi menyatakan, waktu itu Bung Karno menyimpan hasrat supaya Asian Games selain mengnasibkan gairah olahraga Indonesia, tapi perubahan kota dan kebudayaannya. 

Siapa tahu, dengan mengingat gairah dan semangat Bung Karno menyambut Asian Games 1962, Presiden Jokowi, wakil Presiden Jusuf Kalla, menpora Imam Nahrawi, Ketua INASGOC Erick Thohir dan masyarakat Indonesia juga terus antusias menyiapkan diri menyambut tamu dari negara-negara Asia nanti. Barangkali Jakarta dan Palembang bakal menjadi kota megapolitan dengan Indonesia menjadi baginda rumah Asian Games 2018 dan menjadi lebih kekinian. 

Luar biasa bukan untuk melongok Senayan dengan Bung Karno, dan Asian Games 1962-nya? 




Sumber : hariansport

Share this article :
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Harian365 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger