Home » , , , , , , , , , , » Bung Karno Membangun Karakter Bangsa Lewat Asian Games 1962

Bung Karno Membangun Karakter Bangsa Lewat Asian Games 1962

Written By admin on Rabu, 16 Agustus 2017 | Agustus 16, 2017


harian365.com - Tuan rumah Asian Games 1962 menjadi ambisi besar Presiden Soekarno. Apa yang menjadi latar belakangnya?

Asian Games tetap muda di tahun 1962. Waktu itu, Asian Games bakal menggelar pesta untuk kali keempatnya. 

Indonesia juga tetap memasuki usia ABG, 17 tahun. Tapi, Presiden Soekarno tidak ingin Indonesia dianggap sebagai negara remaja yang galau. Dirinya bertekad menunjukkan Indonesia sebagai negara besar dan berdaulat. 

Malah proses pemilihan baginda rumah Asian Games telah diperbuat empat tahun sebelumnya, 1958. Tetap terikat persoalan ekononomi, kesejahteraan masyarakat, minim fasilitas olahraga timbul menjadi pro dan kontra. 

Lantas apa motivasi Presiden Soekarno di tengah kondisi Indonesia tetap carut marut pasca perang kemerdekaan? Situasi di mana kondisi ekonomi, sosial, dan politik Indonesia belum stabil.

Amien Rahayu dalam tesisnya yang berjudul 'Pesta Olahraga Asia (Asian Games IV) Tahun 1962 di Jakarta: Motivasi dan Capaiannya' menyatakan, Asian Games 1962 menjadi alat Presiden Soekarno untuk membawa nama, harkat dan martabat, dan prestasi olahraga Indonesia di level internasional.

Mengangkat Nama, Harkat, dan Martabat Bangsa

Asian Games, menurut Presiden Soekarno, dapat dijadikan alat sebagai pembangunan karakter dan bangsa (Nation and Character Building Indonesia).

Asian Games 1962 dijadikan alat untuk menyatukan bangsa. Masyarakat dilibatkan untuk turut menyukseskannya. 

Bung Karno pun menetapkan Keputusan Presiden No. 79 tahun 1961 yang isinya merupakan semua kegiatan olahraga wajib berada dalam satu pusat komando supaya dapat diperbuat dengan cara terpimpin, terkendali dan terencana. Oleh sebab itu, seluruh rakyat diikutsertakan, seluruh dana dikerahkan jadi menjadi satu gerakan massa olahraga.

Selain itu, Asian Games juga digelar sebagai platform politik Bung Karno yang ingin menciptakan manusia Indonesia ang baru, yang artinya dapat punya posisi kuat dan tegak dengan cara fisik dan mental.

"REVOLUSI keolahragaan kami merupakan sebagian daripada nation building Indonesia, revolusi kami untuk membentuk MANUSIA BARU INDONESIA, antrapologis, rasial, merupakan sebagian daripada nation building Indonesia. Singkat kata, Saudara, kami ini kini semuanja memikul tugas besar yang didalam satu perkataan dinamakan nation building," Bung Karno menyerukan dalam sebuahpidatonya.

Menambah Prestasi Olahraga

Waktu itu, Indonesia terbukti belum sanggup bersaing di kancah internasional pada bidang olahraga. Boleh dibilang hanya bulutangkis yang mempu menjadi cabang olahraga dengan prestasi menonjol di Tanah Air.


Sebagai contoh, pada 1958 Indonesia menjadi juara Thomas Cup. Ketika itu timnas bulutangkis diperkuat Ferry Sonneville, Tan Joe Hoek, Eddy Yusuf, Tan King Gwan dan Nyoo Kim Bie. Keberhasilan itu berlanjut pada tahun 1961 dan 1964.

Sementara di cabang sepakbola, Indonesia tidak sanggup bicara tidak sedikit. Timnas terbukti sanggup menembus semifinal di Asian Games 1954 dan 1958, tapi Bung Karno ingin Indonesia menembus sasaran tiga besar yang ketika itu dicanangkan PSSI era keceo Maladi.

Faktanya, di akhir Asian Games, Indonesia mempunyai ibukota yang modern. Tidak hanya itu, prestasi olahraga Indonesia juga terangkat. 

Mampukah Asian Games 2018 mengusung semangat yang sama?




Sumber : harianhelath

Share this article :
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Harian365 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger