Home » , , , , , , » Ahli: First Travel Tipe White Collar Crime, Pelakunya Keren-keren

Ahli: First Travel Tipe White Collar Crime, Pelakunya Keren-keren

Written By admin on Minggu, 20 Agustus 2017 | Agustus 20, 2017


harian365.com - Polisi sudah menetapkan tiga tersangka di permasalahan First Travel atas sangkaan penggelapan, penipuan serta pencucian uang. Menurut pakar hukum pidana Prof Hibnu Nugroho, permasalahan First Travel tergolong jenis white collar crime atau kejahatan kerah putih.

"Ya (kejahatan kerah putih), ciri-ciri orangnya tampilannya bagus-bagus," kata pakar Hibnu saat berbincang dengan harianhot, Minggu (20/8/2017).

Dalam dunia kejahatan, dikenal istilah black collar crime serta white collar crime. Black collar crime atau kejahatan kerah hitam, biasa dikenal dengan kejahatan konvensional serta dilakukan orang tak terpelajar. Sebagai kejahatan kerah putih, maka penyidik wajib jeli serta berhati-hati mengusut permasalahan pencucian uang tersebut.

"Ini adalah tantangan bagi penyidik penelusuran aset hasil kejahatan ( follow the money) jadi tak berhenti pada penggelapan atau penipuan saja," ucap Hibnu.


Adapun white collar crime biasanya pelaku orang-orang terpelajar serta berkedudukan sosial terpandang dengan mekegunaaankan ilmu pengetahuan serta teknologi, dengan motif untuk mencari keuntungan dari sisi ekonomi. Ciri-ciri lain yaitu pelaku bekerja dengan cara individual, pekerja perusahaan atau bisnis, petugas pembuat kebijakan untuk perusahaan, pekerja perusahaan kepada masyarakat umum atau pelaku bisnis kepada konsumennya.

Dalam permasalahan Fisrt Travel, polisi sudah menetapkan ketiga tersangka, yaitu:

1. Andika Surachman, pemilik First Travel.
2. Anniesa Desvitasari Hasibuan, yang juga tampilaner.
3. Kiki Hasibuan


Andika adalah suami Anniesa, adapun Kiki adalah adik Anniesa yang bertugas sebagai komisaris serta Direktur Keuangan First Travel. Dengan First Travel, mereka diduga memakai serangkaian lakukanan sedemikian rupa mengalihkan uang 30 ribuan calon jemaah umroh dengan kualitas mencapai Rp 500 miliar lebih.

"Karakter pencucian uang adalah mengalihkan sertaa atau uang yang diperoleh dari hasil tindak pidana menjadi sebuahhasil yang legal. Tipelogi yang tak jarang terjadi yaitu, pembelian barang mewah serta real estate, pemakaian perusahan bohong bohongan, bursa efek atau adanya kekayaan tanpa nama serta sebagainya," pungkas Hibnu yang juga pembimbing Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto itu. 




Sumber : harianhot

Share this article :
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Harian365 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger