Home » , , , , , , , , , » Sebentar Lagi Deteksi Tokso Jadi Semudah Tes Kehamilan

Sebentar Lagi Deteksi Tokso Jadi Semudah Tes Kehamilan

Written By admin on Selasa, 25 Juli 2017 | Juli 25, 2017


harian365.com - Saat sedang mengandung, tidak sedikit calon bunda yang dilarang keras untuk mendekati kucing. Alasannya takut tertular tokso, istilah terkenal untuk toksoplasma, salah satu penyebab kecacatan pada janin.

Tetapi selagi ini toksoplasma susah terdeteksi sebab penyakitnya sendiri tidak mengdampakkan gejala klinis yang khas.

"Toksoplasma ini telah meluas. Bahkan ada yang berbicara prevalesinya kurang lebih 60 persen di manusia. Tetapi penyakit ini tidak menunjukkan gejala klinis yang khas semacam pada orang yang kena campak atau cacar," jelas Dr drh Mufasirin, M.Si.

Padahal bila dibiarkan, utamanya pada bunda hamil, maka serangan toksoplasma ini bisa mengdampakkan kecacatan janin sampai abortus (keguguran), bilamana infeksinya terjadi di trimester awal maupun kedua.

Untuk itu drh Mufasirin serta timnya dari Fakultas Kedokteran Fauna Universitas Airlangga merasa butuh menciptakan alat deteksi toksoplasma yang selain cepat serta praktis tetapi juga terjangkau.

Namanya Toxo Kit. Menurut drh Mufasirin, riset pengembangan Toxo Kit telah dimulai sejak tahun 2012. Awalnya timnya berupaya mencari pilihan dari metode diagnosis toksoplasmosis yang lebih umum dipakai yaitu metode ELISA.

"Terbukti sama-sama memakai sampel serum, tetapi ELISA ini membutuhkan waktu lama, 1-2 hari. Kedua, butuh peralatan serta teknisi khusus untuk meperbuat uji serta membaca hasilnya," papar drh Mufasirin saat ditemui harianhealth berbagai waktu lalu.

Ketiga, metode ELISA diklaim menghabiskan lebih tidak sedikit biaya. "Tergantung labnya, tetapi rata-rata ya Rp 400.000-500.000," imbuhnya.



Mirip Test Pack
drh Mufasirin membahas, Toxo Kit ini tidak ubahnya alat pengetes kehamilan atau yang biasa disebut testpack. Ini bisa dilihat dari bentuknya. Bedanya hanya pada tutorial pemakaiannya saja. Bila test pack dimasukkan ke dalam wadah berisi urine, maka Toxo Kit ditetesi serum dari darah pasien.

"Darah kalau didiamkan setengah jam aja kelak bakal timbul serum di atasnya. Itu diambil sedikit saja, kira-kira 50 microgram. Diteteskan di atasnya (Toxo Kit, red). Tinggal menantikan kira-kira 3-5 menitlah," paparnya.


Prinsip kerjanya merupakan dengan mekegunaaankan reaksi antigen antibodi. "Antibodinya merupakan yang di sampel, antigennya yang dilekatkan di sini (di Toxo Kit). Reaksi antigen itu kelak bakal diikat oleh sebuahsinyal reagen. Reagen yang bereaksi dengan ikatan antigen antibodi itu kelak bakal memicu warna tertentu," terang drh Mufasirin.

Hasilnya, ketika ada satu strip yang terkesan berarti yang bersangkutan tidak mempunyai riwayat toksoplasma dalam tubuhnya atau negatif. Sebaliknya, bila timbul dua strip, itu berarti dalam tubuh pasien terkandung antibodi kepada toksoplasma.

"Mungkin sempat terinfeksi dengan tokso atau kini mungkin sedang terinfeksi," lanjutnya.

Staf pembimbing Fakultas Kedokteran Fauna Universitas Airlangga itu berbicara tingkat sensitivitas alat bikinannya telah mencapai 73,5 persen. Tetapi ia berbicara Toxo Kit hanya bisa dipakai untuk kebutuhan skrining awal saja.

"Kalau positif, tindak lanjutnya ya ke medis. Kelak dokter bakal menentukan apakah wajib ujicoba lagi dengan ELISA atau tidak sebab ELISA ini untuk mengenal status aktif atau tidaknya (toksoplasma, red)," ujarnya.


Sejauh ini, drh Mufasirin mengklaim belum sempat dibangun alat serupa di Indonesia, terutama untuk mendeteksi toksoplasma. Ini berarti Toxo Kit berpotensi besar untuk diproduksi dengan cara massal. 

"Sebetulnya telah ada perusahaan besar yang melirik untuk produksi massal, tetapi kami tetap wajib memastikan ujicobanya stabil serta dalam skala besar. Ini kan ujinya baru skala lab," tandasnya.


Timnya juga belum berpuas diri. drh Mufasirin mengaku ingin menambah sensitivitas alatnya sampai setidaknya mencapai 80 persen. "Saya juga ingin satu alat ini bisa dipakai macam-macam penyakit umpama herpes atau CMV. Ini kan menguntungkan masyarakat, sampelnya sekali ambil hasilnya langsung tidak sedikit. Lebih ekonomis juga sebab nggak usah bolak-balik tes," harapnya.

Kelebihan lain yang dimiliki Toxo Kit merupakan hasil tes alat ini bisa dilihat dengan mata telanjang. Untuk mengimbangi kebutuhan bakal diagnosis toksoplasma yang tinggi, peneliti juga bermaksud mematok harga berkisar di Rp 50.000-70.000 untuk alat tersebut.

"Tantangannya tinggal menyediakan antigen yang lumayan untuk produksi massal. Antigen ini diinginkan tidak tergantung dengan toksoplasma nasib, jadi dibangun antigen subunit menjadi protein subunit. Kami klonkan di mikroba kelak mikroba yang bakal memproduksi itu, kami tinggal manen aja," urai drh Mufasirin

Hanya saja proses kloning ini sendiri tidak rutin mulus, bahkan dikatakan untung-untungan jadi bisa memakan anggaran yang besar. "Kalau telah jadi bisa dipakai selamanya serta terjangkau. Cuman untuk memproduksinya yang agak mengalami kendala," tambahnya.




Sumber : harianhealth

Share this article :
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Harian365 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger