Home » , , , , , , , , , » Penyintas Autoimun Juga Butuh Paparan Sinar Matahari, Ini Takarannya

Penyintas Autoimun Juga Butuh Paparan Sinar Matahari, Ini Takarannya

Written By admin on Minggu, 23 Juli 2017 | Juli 23, 2017


harian365.com - Pengidap penyakit autoimun biasanya menghindari sinar matahari, padahal faktanya tak rutin wajib begitu. Justru mereka tetap membutuhkan vitamin D yang berpengaruh dalam proses modulasi imunologi seseorang serta bisa mencegah penyakit tersebut.

Tapi, pasti ada takarannya. Menurut Prof Harry Isbagio, SpPD-KR, saat ditemui harianhealth di Grand Indonesia berbagai waktu lalu, sinar matahari terbukti mempunyai sinar ultraviolet (UV) A, B, serta C yang masing-masing punya efek negatif.

UVA berpengaruh dalam proses penuaan serta UVB bisa menyebabkan kulit menjadi terbakar serta menghitam. Beruntung UVC diserap oleh lapisan ozon jadi akibat kurang baiknya tak terasa. Tetapi faktor ini menjadi berpersoalan ketika sebuahwilayah mempunyai lapisan yang tipis alias bahkan bolong.


Akibat negatif dari terpapar sinar UV pastinya dirasakan bagi penyintas autoimun, tapi responnya beragam bagi tiap penyandang. Ada yang kulitnya menjadi merah-merah, kadang disertai rasa panas alias bahkan bisa menyebabkan tubuh mudah lelah.


Pernyataanya, dari ketiga sinar tersebut mana yang berbahaya bagi penyintas autoimun? Ketiganya sama berbahayanya. Oleh sebabnya, Guru Besar Fakultas Kedokteran di Universitas Indonesia ini menyarankan untuk berjemur hanya di tengah sinar matahari pagi.

"Antara jam 6 hingga 10 pagi tetap aman, paling 10-20 menit telah cukup." anjurnya. Meskipun vitamin D tetap bisa didapatkan dari suplemen, ia tetap lebih merekomendasikan memakai sumber yang alamiah yakni dengan berjemur di pagi hari.




Sumber : harianhelath

Share this article :
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Harian365 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger