Home » , , , , , , » Patroli Bersama Tentara Penjaga Perbatasan RI-PNG di Rawa-rawa Papua

Patroli Bersama Tentara Penjaga Perbatasan RI-PNG di Rawa-rawa Papua

Written By admin on Sabtu, 08 Juli 2017 | Juli 08, 2017


harian365.com - Helm dikenakan, senjata berikut rentengan peluru dikalungkan, radio komunikasi diaktifkan. Para tentara penjaga perbatasan ini siap berpatroli ke tempat matahari terbit di Indonesia, di pojok timur Merauke, Papua. Ingin tahu rasanya? Ayo masuk barisan, ikuti derap langkah mereka!
Para personel Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) berada di Pos Komando Taktis (Poskotis) Kaliwanggo, Kampung Erambu, kurang lebih 120 Km dari Kota Merauke. 15 Orang di antaranya bersiap untuk patroli ke tapal batas. Kita harianhot mencoba mengikuti aktivitas patriotik mereka.
"Kenakan rompi pelampungnya," kata salah seorang personel terhadap kami, sambil menunjung rompi berwarna hijau loreng di bawah pohon.


Matahari lumayan bersinar terang pada Sabtu (13/5/2017) pukul 13.30 WIT. Padahal berbagai saat sebelumnya, hujan baru saja turun. Kami diberi tahu cuaca di sini terbukti tidak stabil. Dapat saja sebentar lagi hujan bakal turun lagi.
Senapan serbu keluaran Fabrique Nationale (FN) Belgia tipe FN Minimi dibawa. Berat juga rasanya untuk tangan yang tidak sempat terbuktigul senjata, kurang lebih 7 kg. Ada juga senapan SS2-V4 keluaran Pindad, produk dalam negeri, lebih ringan sedikit, kurang lebih 5 kg.
Salah seorang tentara menggendong radio taktis tipe legendaris semacam yang dipakai tentara Amerika Serikat (AS) di perang Vietnam, yakni AN/PRC-77. Alat pelacak sistem pemosisi global, yakni Garmin GPSMAP 65s, telah di genggaman. Ada pula ransel peralatan P3K yang digendong. Sang Saka Merah Putih yang tiangnya tersemat di tahap belakang pakaian prajurit, berkibar tertiup angin Papua.
15 Tentara ini berasal dari Batalyon Infanteri Para Raider 503/Mayangkara. Sebelum berangkat, Komandan Kompi Markas bernama Kapten Inf Suwandi memberbagi arahan pendek dalam apel. Tujuan patroli merupakan memastikan keamanan perbatasan RI-Papua Nugini di patok MM 12.2. Medan yang ditempuh bakal lumayan berat. Tidak hanya berlangsung di tanah lumpur, prajurit juga wajib menceburkan diri di air rawa-rawa Sungai Wanggo.
"Perhatikan keamanan! Jika ada hal-hal menonjol, dilaporkan. Kami bakal bergerak di Kali Wanggo," kata Suwandi.


Maka bergeraklah mereka. Kita mencoba menyelaraskan langkah serdadu ini. Melintasi turunan tanah dengan semak belukar, hingga ke bibir Kali Wanggo. Di situ telah ada perahu serta ketinting ramping dari kayu bintangur. Lebar cekungan ketinting hanya muat untuk satu orang dewasa, berjongkok, serta tidak boleh tidak sedikit gerak alias ketinting ini akan oleng.
Satu per satu, para serdadu naik benda ini. Semua menyiagakan senapannya ke depan. Motor perahu dinasibkan. Tetapi nyatanya gerimis turun. Saya pikir tidak apa, paling sebentar lagi hujan berhenti. Tetapi nyatanya gerimis berubah menjadi hujan. Basahlah semuanya di tepi sungai ini.
Rasa-rasanya, hujan semacam ini justru membikin para tentara terkesan terus heroik saja. Ketinting melaju mengangkat mereka menyusuri Kali Wanggo yang berair tenang serta hijau gelap. Entah apa yang disembunyikan oleh sungai ini.
Kesan misterius kawasan ini terasa saat ketinting hingga ke tengah sungai. Di segi kanan serta kiri, yang tampak merupakan rawa-rawa sunyi. Menerawang lebih jauh, ada hutan yang didominasi pohon eukaliptus, alias orang sini menyebutnya pohon bus. Hujan reda, cuitan burung-burung serta suara serangga hanya meningkatkan kesan sunyi saja. Ada seekor elang berdada putih yang melintas di ketinggian, tanpa suara. Tetapi justru inilah kemurnian alam Papua. Saya segera menghirup dalam-dalam udara bersih di Bumi Cenderawasih ini, meresapi suasana di tapal batas Indonesia.


Tapi para tentara di atas ketinting tidak se-melodramatik itu dalam menikmati suasana. Mereka tetap terus memicingkan pandangan di atas senapan, seolah-olah akan ada yang timbul dari rawa-rawa serta mengancam keselamatan jiwa. Mata saya juga ikut-ikutan mengawasi rawa, nampak ada bentuk panjang bertekstur kasar yang mengapung. Warnanya kecoklatan, panjang kurang lebih 7 meter. Apa itu buaya?
Bukan! Nyatanya itu cuma kayu lapuk yang mengapung di rawa-rawa. Sementara itu, para tentara tetap tidak melepaskan pandangannya dari bidikan senapan.
Tiba-tiba ketinting berbelok ke kiri, ke arah rawa-rawa yang misterius itu. Apa pula yang mereka cari di pojok bumi ini? Laju ketinting wajib pelan-pelan, agar tidak menabrak pohon bus di kanan serta kiri yang terus rapat saja.
Byurrr! Byurrr! Byurrr!
Satu per satu serdadu menceburkan diri ke rawa, meninggalkan ketinting. Pucuk senjata tetap diarahkan ke depan. Mereka mengendap-endap sampai hanya nampak kepala, tangan, serta senjata saja. Sejauh ini situasi tetap aman-aman saja.
Barulah terjawab sekarang, nyatanya mereka masuk ke rawa-rawa merupakan untuk mencapai tapal batas negara. Benar, tapal batas negara ini berada di rawa-rawa ini, bukan di tanah kering. Nampak konstruksi monumen berlapis asbes bercat putih, di atasnya tertancam bendera Merah Putih. Di kedua segi monumen itu tertempel pelat besi putih mengkilat, satu segi berbahasa Inggris, segi lainnya berbahasa Indonesia.
"Tanda Batas No: MM 12.2," begitulah keterangan yang ada di patok batas negara ini, didirikan pada September 1984. Ada lambang Garuda Pancasila serta lambang Papua Nugini di pelat ini.
Pelacak GPS dinasibkan salah seorang tentara, memastikan bahwa patok ini tidak tergeser alias digeser. Para personel Satgas Pamtas ini terus berlangsung-jalan, matanya menerawang ke segala penjuru. Syukurlah, situasi aman-aman saja. Para tentara kemudian membentuk lingkaran, menghormat terhadap Sang Saka Merah Putih.
Lokasi ini lumayan terpencil. Memandang ke arah teritorial Papua Nugini, sama sekali tidak ada orang. Kampung terdekat yang berada di Papua Nugini, yakni Kampung Goku, jaraknya tetap empat jam dari titik ini bila ditempuh dengan perahu.


Tempat ini tidak rutin tergenang menjadi rawa-rawa. Ada kalanya bila kemarau, air bakal surut. Lokasi tapal batas ini berubah menjadi daratan berlumpur. Bila demikian, patroli bakal diperbuat memakai motor trail.
Ada 450 personel Yonif Para Raider 503/Mayangkara yang berjaga di Merauke. Mereka tersebar di 18 pos. Masing-masing pos berisi 20 orang sampai 24 orang.
Komandan Yonif Para Raider 503/ Mayangkara, Letkol Inf Erwin Agung, menyebutkan wilayah yang dijaga para anak buahnya terbilang tanpa gangguan yang berarti. Pelanggaran perlintasan batas negara juga minim. Soal adanya dinamika saudara-saudara Papua yang ingin memisahkan diri dari NKRI, Erwin menyebutkan faktor itu telah hampir tidak ada. Pelanggaran yang kadang ditemui merupakan peredaran minuman keras. Tidak hanya itu, jarang terjadi pelanggaran.
"Selama kita melaksanakan kegiatan, Alhamdulilah dalam keadaan baik. Tidak ada patok yang bergeser," kata Erwin saat berbincang malam hari di Pos Sota.
Meski begitu, personelnya tetap wajib rutin menjaga keamanan. Ada 38 patok perbatasan yang wajib rutin dijaga. Medan yang wajib dilewati bermacam-macam. Ada yang berupa daratan serta jalanan yang rusak, rawa-rawa, alias juga laut.
"Di Kondo (Distips Naukenjerai), jika lewat laut, kita wajib berhadapan dengan ganasnya ombak. Sebelumnya sempat ada kapal pendeta serta pastor terbalik di sana. Jalur di sini tetap berisiko," tutur Erwin.
Erwin berharap jalan darat di Merauke dapat menjadi lebih baik ke depannya. Jaringan jalan yang baik bakal mempermudah kerja-kerja penjagaan perbatasan. Masyarakat setempat juga bakal terbantu.


Satgas Pamtas juga mendekatkan diri ke masyarakat lewat pembinaan-pembinaan teritorial. Para tentara mengajari penduduk setempat tutorial bertepat tanam. Sebagaimana diketahui, masyarakat setempat cenderung berburu serta meramu ketimbang bertepat tanam. Ada pula kegiatan keagamaan yang diselenggarakan Satgas Pamtas.
"Kita juga tanamkan bela negara. Di pos-pos yang punya personel berkeahlian mengajar, mereka masuk ke sekolah-sekolah untuk memberbagi pelajaran," tutur Erwin.
Soal pembinaan teritorial serta penanaman nasionalisme, ada cerita hebat yang disampaikan Erwin. Di Yakyu, Distips Sota, Merauke, ditemukan 107 orang alias 57 Kepala Keluarga dari Papua Nugini datang bermukim di situ. Awalnya Satgas Pamtas yang berpatroli tahun 2014 tak tahu bahwa mereka bukan orang Indonesia, tetapi sebab mereka berkata dalam Bahasa Inggris terhadap personel Satgas, akhirnya mereka ditanyai, serta benar mereka berasal dari Papua Nugini.


"Kemudian kami membiasakan mereka berbahasa Indonesia. Kami siapkan tenaga pengajar, kami kumpulkan mereka. Kebetulan saat itu saya juga dinas di sini," kata Erwin.
Mereka tak menolak penanaman nasionalisme Indonesia yang diberbagi Satgas. Soalnya, mereka sadar bahwa wilayah yang mereka tempati merupakan wilayah Indonesia, serta mereka mau belajar soal Indonesia.
Kegiatan-kegiatan semacam itu mereka perbuat sejak bertugas mulai Februari lalu. Bagi mereka, penjagaan negara merupakan nomor satu.




Sumber : harianhot

Share this article :
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Harian365 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger