Home » , , , , , , , , , , » Nasib Timnas Karate: Gaji Telat, Tanpa Peralatan Tanding, Hotel Numpang

Nasib Timnas Karate: Gaji Telat, Tanpa Peralatan Tanding, Hotel Numpang

Written By admin on Sabtu, 22 Juli 2017 | Juli 22, 2017


harian365.com - Pengurus Besar FORKI optimistis sasaran dua emas yang ditetapkan Satlak Prima dapat tercapai di SEA Games 2017. Mereka berupaya meraihnya walau dalam kondisi serba susah.

Karate menjadi salah satu cabang yang diandalkan dapat menyumbang medali emas di SEA Games 2017 Malaysia. Mereka membidik dua medali emas dari nomor kata serta kumite di multievent tersebut. 

Berkaca dari hasil ujicoba terbaru di Kejuaraan Asia Karate 15-16 Juli lalu, skuat asuhan Philip King berhasil memboyong tiga medali perak serta lima medali perunggu. Dari hasil itu pula, karate Indonesia berhasil menduduki posisi lima, di atas negara-negara Asia Tenggara. Posisi pertama ditempati Iran, kemudian Jepang, Arab Saudi, serta Taipei. 

Dengan fotoan itu, sebetulnya sasaran dua emas dapat saja tercapai, asal dengan dukungan yang penuh juga. Tetapi, sebulan jelang keberangkatan tim ke SEA Games di Malaysia, tetap ada saja kendala yang mereka hadapi. Dimulai dari peralatan tanding yang belum tiba, bahkan hingga urusan akomodasi. 

"Begini, hasil Kejuaraan Asia terbukti keren. Tapi itu belum menjadi fotoan kami akan berhasil di SEA Games sebab dukungan terhadap atlet saja tersendat," kata Pelatih Kepala Timnas karate Philip King terhadap hariansport, Jumat (21/7/2017). 

"Kami ditargetkan dua medali emas tapi kalau mau persiapan baik maka semua yang kami perlukan siapkan dong," katanya. 

"Ini peralatan tanding hingga kini belum ada. Bulan lalu kami baru terima peralatan latihan semacam baju serta perlengkapan lainnya tapi itu dengan pengajuan yang telah dari tahun lalu. Sehingga (sebetulnya) dari tahun ke tahun sama saja, sebetulnya ini ada apa? Belum lagi akomodasi yang belum dibayar-bayarkan."

Karate lumayan beruntung sebab hotel tempat mereka menginap, The Bellezza Suites, tetap mau menoleransi dengan menampung skuat karate yang berjumlah 27 orang, terdiri dari 20 atlet, lima pelatih lokal, satu pelatih asing, serta satu manajer. 

"Kebijakan pihak hotel yang tetap mau menampung kami (sebabnya kami tetap dapat di sana). Biayanya? satu orang Rp 500 ribu dikali 27 orang dikali 6 bulan. Dapat diperkirakan itu berapa," ungkap dia. 


Philip meningkatkankan, dia juga tidak ingin mengambil risiko dengan sisa waktu sebulan in, persiapan yang dibuat sejak lama sehingga sia-sia hanya sebab persoalan yang sama. Serta,ujung-ujungnya berimbas terhadap atlet. 

"Seusai traning camp serta try out kini kami fokus me-maintenance supaya jangan hingga ada persoalan. Tapi kalau gaji saja terlambat, peralatan tanding tidak ada, hotel belum dibayarkan, bagaimana mau tenang."

"Kami usahakan atlet supaya tidak ikut terbeban, tetapi mereka tentu tahu, serta membaca kabar. Sehingga diinginkan selesai semua lah sebab sebab dengan cara psikologi itu mempengaruhi kami," katanya. 

Keadaan tidak mengenakkan yang pada atlet-atlet karate ini terjadi walau pada awal Juni lalu Menpora Imam Nahrawi telah meperbuat tinjauan langsung. Saat itu Imam juga meminta maaf sebab honor terlambat diterima.




Sumber : hariansport

Share this article :
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Harian365 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger