Home » , , , , , , , , , » Karena Kondisi Langka, Dokter Ini Bisa Rasakan Sakit Pasiennya

Karena Kondisi Langka, Dokter Ini Bisa Rasakan Sakit Pasiennya

Written By admin on Senin, 10 Juli 2017 | Juli 10, 2017


harian365.com - "Jadi percuma pakai obat yang keren yang mahal tapi pola nasib sehat tidak kami jalani. Nggak ada gunanya sama sekali," kata ketua pengurus besar Perhimpunan Alergi-Imunologi Indonesia (PERALMUNI) ini.

"Kalau autoimun pola nasib sehat, maksimalkan, semakin obat-obatan ngikut, supaya obat-obatan bisa bertidak lebih dosisnya. Sebab kalau tidak pola nasib sehat, obat-obatan nggak bakal lepas," tambah dr Iris.

Sebab itu, remisi obat bisa diperbuat asal betul-betul berkomitmen menjalankan pola nasib sehat, tergolong olahraga 30 menit, ibadah, senyum serta positive thinking.

"Kita bisa nasib tanpa obat? Bisa, kami bisa nasib normal? Bisa. Semuanya bisa, namun balik lagi, obat pelan-pelan bisa distop. Bisa remisi obat, tapi hati-hati jangan kecapekan, keluar dari pola nasib sehat itu kelak kambuh. Tapi cepet-cepet ya pola nasib sehat lagi," anjur dr Iris.


'Mirror-touch synesthesia', sesuai dengan namanya merupakan kondisi saraf di mana seseorang bisa merasakan sensasi emosional maupun fisik yang dialami orang lain. Kondisi ini terbilang langka, sebab diperkirakan hanya terjadi pada dua dari 100 orang saja.

Joe lebih suka menontonnya sebagai empati tingkat tinggi. "Ada tahap di otak kami yang bisa 'menirukan' perasaan orang lain, serta pada orang-orang semacam kami, tahap otak itu lebih besar serta lebih aktif dibanding yang tidak mengalaminya," terang Joe yang juga pakar saraf dari Massachusetts General Hospital.

Pria ini juga merasa beruntung bisa menolong orang lain sebab dari berbagai pasien yang sama dengannya, sebagian besar dari mereka cenderung menutup diri dari dunia luar alias terisolasi sebab tidak mampu menghadapi apa yang mereka bisa rasakan.

Ketika berada di tengah-tengah pasiennya, Joel pun menerapkan teknik khusus supaya bisa masih fokus. "OK, tidak ada yang kurang baik dengan saya, namun dengan pasien yang bakal saya hadapi. Saat ini saya wajib meperbuat sesuatu untuk menolong mereka," tuturnya.

Memang, performa Joel ada gunanya. Joel mengisahkan, ia sempat dimintai bantuan untuk menangani seorang pasien cerebral palsy yang tidak bisa bicara. Pasien wanita ini juga menolak berinteraksi dengan para suster.

"Begitu saya masuk ruangan di mana ia berada, saya merasa dada saya naik turun, begitu juga dengan otot bahu saya. Dengan cara klinis, ini menunjukkan bahwa si pasien mengalami gangguan pernapasan," urainya.


Joel lantas merekomendasikan tim dokter lain supaya meperbuat prosedur pencitraan pada si pasien, serta ini berujung pada ditemukannya gumpalan darah di dalam paru-paru pasien tersebut.

"Ia panik bukan sebab marah alias emosi lainnya. Ia hanya sulit bernapas. Namun tanpa performa sinestesia saya, mungkin saya takkan sempat tahu apa yang terjadi padanya," imbuhnya.

Testimoni juga datang dari pasien Joel bernama Bob McGrath. Kebetulan Bob mempunyai persoalan dengan pengobatannya di mana salah satunya mengdampakkan tremor serta penurunan kognitif. Hanya dengan menonton Bob, Joel langsung tahu obat mana yang menyebabkan efek samping tersebut.

"Ia hingga menelepon saya tiga kali dalam sehari untuk memastikan kondisi saya. Saya kira itu faktor yang tidak lazim diperbuat seorang dokter," pujinya.




Sumber : harianhealth


Share this article :
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Harian365 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger