Home » , , , , , , , » Dinamika Ibu Pekerja di DKI Jakarta

Dinamika Ibu Pekerja di DKI Jakarta

Written By admin on Minggu, 09 Juli 2017 | Juli 09, 2017


harian365.com - Wajah Diah nampak pucat pasi. Anaknya yang tetap balita, Nanda, sedang menangis sekencang-kencangnya di depan pintu Mandiri Daycare. Berbagai orang pengasuh pun mencoba membujuk Nanda supaya mau masuk ke daycare serta berpamitan terhadap ibunya yang hendak bekerja. Tetapi Nanda bergeming. Tangannya menggenggam erat lengan baju Diah yang mulai tampak kebingungan.

Dikatakan Diah, faktor ini ia lalui setiap pagi ketika mengantar anaknya ke Mandiri Daycare. Diah yang adalah pegawai di Bank Mandiri ini terbukti menitipkan anaknya di Mandiri Daycare setiap hari kerja, Senin hingga Jumat.

"Ini kebetulan dirinya lagi sumeng, kemarin terbukti suami saya pernah flu, mungkin ketularan. Makanya Nanda rewel banget kali ini, maunya digendong terus sama saya, padahal saya wajib absen serta masuk kerja," ungkap Diah, saat ditemui di Plaza Mandiri, Jl Gatot Subroto, berbagai waktu lalu.

Diceritakan Diah, ia baru menitipkan anaknya di Mandiri Daycare tak lebih lebih dua bulan lalu. Keputusan menitipkan anak di daycare diambil seusai ia kapok mempekerjakan baby sitter. Dua kali memperkerjakan baby sitter, dua kali pula ia merasa anaknya diurus dengan tak lebih baik.

Keputusan menitipkan Nanda di Mandiri Daycare datang seusai ia memantau anak-anak yang dititipkan di daycare diurus serta diasuh dengan baik. Perbincangannya dengan para bunda yang juga menitipkan anaknya di Mandiri Daycara membikinnya yakin mengambil keputusan ini.

"Kalau baby sitter kan kami tepat-tepatan, serta dua kali nggak tepat. Kebetulan saya lihat di Mandiri Daycare ini pengasuhannya baik, anak diajak main, bernyanyi, ada stimulasinya. Serta kata ibu-ibu yang lain anaknya dititipin di sini sehingga lebih gampang berteman, makanya saya memutuskan menitipkan anak di sini, tidak hanya sebab terbukti tetap berada di dalam lingkungan kantor," papar Diah lagi.

Diah hanyalah salah satu dari kurang lebih 2 juta lebih angkatan kerja perempuan yang ada di DKI Jakarta. Persoalan yang mereka hadapi pun sama, yakni wajib mengorbankan tanggung jawab untuk mengurus serta membesarkan anak demi mencari nafkah bagi keluarga.

Berdasarkan data yang dimiliki Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk di DKI Jakarta pada tahun 2015 mencapai 10.117.924 jiwa. Proporsinya pun lumayan sebanding untuk laki-laki serta perempuan, dengan masing-masing tipe kelamin mempunyai jumlah kurang lebih 5 juta jiwa. Tetapi apabila dilihat dari jumlah angkatan kerja, tersedia ketimpangan yang lumayan signifikan.

Dari total 5 juta lebih angkatan kerja di Indonesia, hampir 3 juta di antaranya adalah laki-laki. Sisanya yang berjumlah 2 juta orang adalah perempuan, dengan jumlah yang terus meningkat. Berdasarkan survei BPS pada tahun 2013, diperkirakan ada penambahan jumlah angkatan kerja dari kalangan perempuan yang terus meningkat tiap tahunnya.


Secara nasional, total angkatan kerja di Indonesia berjumlah kurang lebih 114.000.000 jiwa. Dari angka itu, kurang lebih 38 persennya adalah angkatan kerja perempuan yang berjumlah kurang lebih 43,3 juta jiwa. 25 Juta di antara angkatan kerja perempuan tersebut tetap berada di usia produktif, serta tidak sedikit dari mereka yang adalah seorang ibu.

"Kalau dulu, mungkin dapat keperluan nasib terpenuhi dengan hanya ayah saja yang bekerja, sementara bunda tinggal di rumah serta mengurus anak. Tetapi realitanya sekarang, sangat susah bagi keluarga untuk memenuhi keperluan nasib apabila hanya ayahnya saja yang bekerja. Mau tidak mau, bunda pun wajib turut mencari nafkah," tutur ahli psikologi keluarga serta rumah tangga dari klinik psikologi Tiga Generasi, Tiara Puspita.


Dilema tersebut dialami oleh Sofia, seorang guru sekolah dasar di daerah Cempaka Putih, Jakarta Timur. Sofia adalah bunda dari seorang putra berumur 1,5 tahun. Dengan suaminya yang bekerja sebagai karyawan di perusahaan rental mobil, rata-rata pendapatan mereka apabila digabungkan tidak mencapai Rp6 juta per bulan.

"Kalau hanya suami saja yang bekerja nggak bakal ketutup mas. Untuk membayar cicilan rumah saja Rp3 juta, cicilan motor Rp650 ribu, belum belanja, ongkos, bensin, dan kebutuhan rumah tangga lainnya," tutur Sofia yang tetap berstatus guru honorer ini.

Untuk urusan mengasuh anak, Sofia mempercayakannya terhadap orang tuanya yang tinggal di Utan Kayu. Setiap hari sebelum pergi bekerja, Sofia menitipkan putranya untuk diasuh oleh ibunya. Saat pulang kerja kurang lebih pukul 3 sore, Sofia menjemput anaknya dan pulang ke rumah.

"Terbukti kesannya semacam merepotkan orang tua.Tapi gimana lagi? Kalau kami nggak kerja kelak malah anak nggak dapat makan. Alhamdulillahnya orang tua mau aja dan mereka nggak keberatan sebab dapat sekalian ngemong cucu," katanya.

Pengalaman yang sama juga diceritakan oleh Yeyen, seorang bunda dua anak asal Condet, Jakarta Timur. Yeyen bekerja sebagai pramusaji di restoran cepat saji, sementara suaminya bekerja sebagai petugas ticketing maskapai penerbangan di bandar udara Halim Perdanakusuma. Setiap pagi, Yeyen mengantar anaknya yang sulung ke PAUD sebelum pergi kerja. Sementara anaknya yang bungsu dititipkan ke tetangga yang ia membayar per bulan.

"Yang gede usianya telah 4 tahun lebih, sehingga telah agak besar, dapat ditinggal di PAUD sendiri. Yang kecil umurnya baru 7 bulan. Tetap dikasih ASI perah. Saya titipkan ke tetangga untuk diasuh dari pagi hingga sore. Kelak kalau PAUD telah berakhir, tetangga saya itu juga jemput anak yang sulung. Saya membayar sebulannya dirinya Rp750 ribu," ungkap Yeyen.

Daycare: Solusi Bagi Bunda Bekerja

Rosdiana Setyaningrum, psikolog anak dan keluarga dari DZone Therapy Center berbicara ada tiga alternatif yang dapat diperbuat bunda untuk menanggulangi persoalan pengasuhan anak ketika bekerja. Pertama adalah menitipkan anak terhadap kakek, nenek, ataupun kerabat keluarga lain. Alternatif ini biasa diperbuat oleh bunda yang tinggal dekat dengan keluarga besarnya, dengan catatan kerabat keluarga tersebut telah pensiun alias tidak bekerja.

Kedua adalah menyewa babysitter khusus anak. Alternatif ini pernah terkenal sebab tidak hanya mempunyai pengalaman dan ilmu dasar mengurus anak, babysitter juga dapat menolong bunda mengerjakan pekerjaan rumah tangga sesuai persetujuan. Tetapi maraknya pemkabaran soal penganiayaan anak dan argumen keamanan membikin sebagian bunda riskan memakai jasa babysitter.

Terbaru adalah menitipkan anak di Tempat Penitipan Anak (TPA) alias daycare. Daycare menjadi alternatif terkenal sebab tidak hanya dekat dengan kantor ibu, tenaga pengasuh yang ada di daycare telah terlatih dan dapat memberbagi stimulasi maksimal bagi tumbuh kembang anak.

"Pilihannya kembali lagi terhadap masing-masing orang tua, sesuai dengan performa dan kondisi keluarga masing-masing. Tapi bagi yang tinggalnya tidak dekat dengan kakek dan nenek, alias was-was apabila anak ditinggal dengan babysitter, maka daycare adalah alternatif paling baik," ungkap Diana.


Pemilihan daycare sebagai tempat penitipan anak didasari oleh berbagai penelitian. Studi yang diperbuat oleh National Institute of Child Health and Human Development's (NICHD) terhadap 1.000 anak menyebut daycare menolong anak mengembangkan performa kognitif dan bahasa yang lebih baik. Efek terbesar dirasakan oleh anak-anak dari keluarga menengah ke bawah, di mana sebagian besar waktu orang tua dihabiskan untuk bekerja dan anak jarang mendapat stimulasi di rumah.

Studi lainnya yang diperbuat di Finlandia pada tahun 2013 menyebut anak-anak yang dititipkan di daycare mempunyai performa sosial yang lebih besar daripada anak-anak lain seusianya. Mereka lebih mudah beradaptasi dan berkomunikasi dengan orang dewasa, tergolong dengan orang tua.

Terbaru, studi yang diperbuat terhadap kurang lebih 120 anak di Inggris menyebut menitipkan anak di daycare tidak membikin hubungan antara anak dan orang tua merenggang semacam yang ditakutkan. Justru dengan bergabung di daycare, anak mempunyai pengalaman harian yang nantinya dapat diceritakan kembali terhadap orang tua.

"Tidak sedikit keuntungan yang dapat didapat di daycare, dengan syarat bunda tidak boleh lepas tangan dalam pengasuhan anak. Ingat ya, daycare bukan pengganti ibu, nenek bukan pengganti bunda dan babysitter juga bukan pengganti ibu. Tidak ada peran yang dapat menggantikan bunda untuk faktor pengasuhan anak," paparnya.

Turut bekerja dan mengambil peran sebagai pencari nafkah ditambah dengan tanggung jawab untuk mengurus dan membesarkan anak rentan membikin bunda menjadi stres. Menurut Tita, bunda yang bekerja tidak jarang kali mengalami stres akibat ketidak lebihan waktu.

Saat di kantor, mereka mempunyai pekerjaan sesuai manfaatnya sebagai karyawan. Ketika di rumah, pekerjaan mengurus rumah tangga pun telah menantikan. Akibatnya, bunda yang bekerja tidak jarang merasa ketidak lebihan waktu untuk diri sendiri.

"Di kantor ada berbagai faktor yang menyebabkan bunda kepikiran dan sebaliknya misalkan di rumah, bunda juga dapat memikirkan pekerjaan di kantor jadi akhirnya mereka stresnya itu nggak dapat menikmati waktunya jadi nggak fokus sama kedunya (pekerjaan dan mengurus anak -red) jadinya nggak happy," jelasnya.

Akibatnya, bunda dapat saja melampiaskan stresnya terhadap anak di rumah dan lebih tidak jarang marah. Faktor ini membikin anak menjadi takut terhadap ibu, dan dapat jadi ia berpikiran bahwa kehadirannya hanyalah sebagai beban orang tua. Yang lebih parah, bunda yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya dapat saja membikin anak tidak lebih diperhatikan dan diurus, yang membikin anak merasa tidak disayang ketika berada di rumah.

Di sini, menitipkan anak di daycare adalah solusi. Dalam suatu  survey yang diperbuat pada bunda bekerja di Amerika Serikat pada tahun 2012, 65 persen bunda yang menitipkan anaknya di daycare merasa lebih sanggup mengontrol emosinya dengan baik. Mereka juga lebih jarang mengangkat pulang pekerjaan ke rumah dan mempunyai kualitas skor yang baik dalam hubungan keeratan dengan anak.

Survei yang dipublikasikan di jurnal JAMA Pediatrics ini menyebut persentase lebih rendah didapat dari bunda yang menyewa baby sitter, dengan angka 42 persen. Di segi lain, menitipkan anak di orang tua lumayan sanggup membikin bunda mengontrol emosinya di rumah, tetapi kualitas skor dalam hubungan keeeratannya dengan anak lebih rendah.


Meski begitu, bukan berarti bunda yang bekerja tidak mempunyai efek positif bagi anak. Diana menyebut bunda bekerja mempunyai beragam efek positif. Salah satunya, bunda jadi lebih up to date soal kondisi terkini. Dengan begitu, bunda dapat menjadi kawan ngobrol yang baik untuk anak dan tidak dianggap kuno alias ketinggalan jaman.

Bagi psikolog yang bersahabat disapa Diana ini, mengenal info kekinian sangat penting supaya anak mempunyai respek yang tinggi terhadap orang tua. Dengan bekerja, pasti bunda menjadi lebih pekar terhadap perkembangan zaman dan isu-isu terkini. Terlebih, anak saat ini sangat mudah memperoleh info apapun dari internet.

"Sebab bekerja, jadi paham bagaimana tutorial menangani orang, punya skill interpersonal, pengetahuan yang lebih luas. Anak-anak lihat ibunya punya achiement jadi lebih respect. Kalau tidak kerja, bunda dianggap nggak tahu apa-apa sebab hanya ngasih makan, minum dan antar jemput saja, tidak dapat ngobrol sebab dianggap bunda tidak tahu," tutup Diana.





Sumber : harianhealth

Share this article :
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Harian365 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger