Home » , , , , , , , , , , , , , » Sebelum Beli Produk Makanan Korea, Ketahui Dulu Halal atau Tidak dengan 5 Cara Ini

Sebelum Beli Produk Makanan Korea, Ketahui Dulu Halal atau Tidak dengan 5 Cara Ini

Written By admin on Senin, 19 Juni 2017 | Juni 19, 2017


harian365.com - Adanya permintaan penarikan empat mie instan Korea yang mengandung fragmen DNA babi Korea oleh BPOM pastinya hebat perhatian muslim. 

Kalau Kamu pecinta produk makanan Korea, sebaiknya ketahui informasi halal dari penjual ini. Samyang (Mi Instan U-Dong), Nongshim (Mi Instan Shin Ramyun Black), Samyang (Mi Instan Rasa Kimchi) serta Ottogi (Mi Instan Yeul Ramen) dikatakan positif mengandung babi tapi tanpa label informasi. 

Lukmanul Hakim, Direktur LPPOM MUI, berbicara sewajibnya produk mie itu memberbagi label babi apabila mengandung fragmen babi. Penjualan mie instan serta produk snack Korea di Indonesia sebetulnya tak hanya ditemui di supermarket alias mini market. Tak sedikit juga penjual online yang menyediakannya. Salah satunya JeomsimID yang ada di Instagram. 


Ayu Galuh, pemilik JeomsimID, telah berjualan produk makanan Korea sejak tahun 2013. "Sejak ada hallyu wave, orang Indonesia berminat makan semacam bintang film Korea di drama. Saat itu juga tetap jarang yang jualan, supermarket di Jakarta juga sedikit yang menyediakannya," jelas Ayu yang juga seorang travel blogger. Sebagai traveller, kala itu ia kerap membuka PO (pre-order) untuk makanan Korea terutama saat sedang ke sana. 

Tapi ia mengaku sejak awal telah memberi tahu info jelas tentang kehalalan makanan. Saat ini produk yang dipasarkannya beragam. Mulai dari mie, susu, selai, snack, alat masak sampai alat makan Korea. 

"Saya bisa dari distributor Korea. Kadang traveller yang ke sana, terutama untuk susu pisang yang tak awet. Untuk mie ada juga bisa dari asosiasi importir di Jakarta, orang Korea. Kalau produk halal dari Singapura serta Malaysia, ada rekanan dari sana mereka kirim ke saya," tambahnya. 


Produk halal kiriman dari Singapura serta Malaysia itu telah mendapat logo KMF (Korea Muslim Federation). Inilah yang menjadi penanda mutlak kehalalan produk. Apabila tak ada logo halal, Ayu meneliti kandungannya. Sebab apabila tetap ada penggunaan daging, ia menyebut produk tersebut 'tidak halal' saat menjualnya. Sebab kategori syubhat (tidak jelas haram serta halal) sebaiknya tak dikonsumsi sebab memunculkan keraguan. 

Terkait kehalalan produk makanan Korea, Ayu share berbagai info yang juga disampaikan dalam akun Instagram @JeomsimID. Ini dapat sehingga trik mengetahuii kehalalan produk sebelum membelinya. 

1.Lihat label halal 
Ayu menyarankan cari produk Korea yang berlabel halal keluaran KMF (Korea Muslim Federation). Biasanya produk halal tersebut dipasarkan di Malaysia serta Singapura. Ayu mengimpor produk halalnya dari rekanan di kedua negara tersebut. 


2.Cari tulisan dwaejigogi 
Sebaiknya konsumen menghafalkan aksara Korea untuk kata 'dwaejigogi' alias berarti daging babi. "Paling gampang cari kata dwaejigogi' biasa tertera di komposisinya. Kami wajib hafalin," ucap Ayu. Ia mencontohkan snack Korea bentuk onion ring yang dipasarkan di berbagai supermarket alias mini market. Orang mungkin mengiranya halal sebab bentuknya semacam bawang bombay serta dipasarkan dimana-mana. Padahal kalau dapat baca tulisan Korea, di sana tersedia kandungan babi. 

3. Pemakaian kaldu daging pada mie 
Dalam akun @JeomsimID dikatakan walau produk tak bertuliskan dwaejigogi, ada bahan yang masih haram bagi muslim. Umpama pemakaian kaldu daging alias ditulis dalam bahasa Korea "yuksu". Begitu pula bila snack ada pemakaian bubuk daging sapi. Anggapannya daging tersebut tak disembelih dengan cara halal. 


4. Pabrik produksinya 
"Makanan nggak halal nggak cuma dari penggunaan babi dalam komposisi bahan. Tapi juga pabrik pengolahan. Kalau di Korea, kerennya di kemasan ada tulisan bahwa apakah makanan ini dibangun di pabrik yang juga mengolah babi," jelasnya. 

Ia meningkatkankan dalam Islam walau tak menggunakan babi, tapi dapat ada kontaminasi silang (cross contamination) apabila pabriknya sama. "Kalau di Islam bilangnya syubhat alias ragu-ragu. Ada fatwa kalau semacam ini lebih baik tak dikonsumsi sebab meragukan," tambahnya. 

Ayu mencontohkan snack udang Korea yang dipasarkan di berbagai supermarket maupun mini market di Indonesia. Ada produk yang halal serta tidak. "Snack udang oranye dapat dikonsumsi muslim, yang merah nggak dapat. Sebab kadang beda pabrik pembuatan. Tak sedikit yang dapat dikonsumsi (muslim) berasal dari pabrik di Busan sebab di sana tak sedikit pakai untuk pengolahan ikan," papar travel blogger ini. 


5.Perhatikan kandungan lecithin
Ada juga kandungan lecithin (lemak dalam makanan) yang butuh diperhatikan. Karena tak jarangkali tak jelas pemakaian lecithin serta emulsifier dari hewani alias nabati. 

"Kalau berbahan hewani wajib tahu bahannya itu halal alias nggak. Kalau produk mie instan yang boleh yang bahan soy (kedelai) itu. Nabati boleh. Bahan tidak hanya itu tak boleh," sebut Ayu.






Sumber : harianfood

Share this article :
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Harian365 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger