Home » , , , , , , , , » Pemicu Eksibisionisme: Merasa Inferior dengan Lawan Jenis

Pemicu Eksibisionisme: Merasa Inferior dengan Lawan Jenis

Written By admin on Selasa, 06 Juni 2017 | Juni 06, 2017


harian365.com - Eksibisionisme adalah suatu  bentuk gangguan kejiwaan. Mereka yang meperbuatnya tidak lagi malu bila organ intim yang sewajibnya tertutup terkesan orang asing.

Pernahkah Kamu penasaran mengapa eksibisionis (pelaku eksibisionis) berani meperbuat faktor seperti ini? dr Andri, SpKJ, FAPM dari Klinik Psikosomatik, membahas eksibisionisme umumnya dialami oleh mereka yang merasa inferior di depan lawan jenisnya.

Hal ini juga dijelaskan dalam beberapa literatur mengenai eksibisionisme. "Akhirnya dirinya merasa seperti berkuasa, ketika ia sanggup menakut-nakuti alias memperoleh reaksi kaget dari orang lain ketika dirinya meperbuat eksibisionisme tersebut," urainya terhadap harianhealth, Senin (5/6/2017).


Seperti dikutip dari www.minddisorders.com serta disarikan dari beberapa sumber, ada beberapa faktor yang diduga memicu seseorang sampai mempunyai kecenderungan eksibisionisme, di antaranya:

1. Biologis
Secara biologis, ada pengaruh hormon testosterone yang kemudian mendorong si pelaku untuk meperbuat perilaku seksual yang menyimpang.

2. Kekerasan di masa kecil
Sejumlah studi menyebut kekerasan emosional serta seksual yang dialami saat tetap kanak-kanak ataupun kondisi broken home yang dihadapi seseorang di masa kecil berakibat signifikan pada munculnya kecenderungan ini.


3. Riwayat ADHD
Selain riwayat kekerasan di masa kecil, riwayat ADHD (attention-deficit hyperactivity disorder) juga dianggap berpengaruh kepada munculnya gangguan mental ini. Alasannya belum diketahui, tetapi peneliti dari Harvard University menemukan pasien dengan gangguan paraphilia (keberminatan seksual pada sesuatu yang tak lazim seperti eksibisionisme) berkesempatan lebih besar untuk mengalami ADHD di masa kecil.


4. Trauma kepala
Kebetulan ada berbagai permasalahan yang tercatat dalam literatur di mana para pria berubah menjadi eksibisionis pasca trauma kepala, tanpa disertai riwayat kekerasan di masa kecil.

Lantas mengapa tak sedikit eksibisionis merupakan laki-laki? "Saya belum membaca lebih jauh lagi mengenai ini tetapi terbukti data statistik serta prevalensinya lebih tak sedikit pada laki-laki," tutup dr Andri.

Ternyata sejumlah ahli menyebut definisi eksibisionisme di masyarakat cenderung bias gender. Padahal wanita yang berani membuka bajunya di depan cermin seakan-akan mendorong seseorang untuk menonton tubuhnya juga dapat digolongkan sebagai eksibisionis. Begitu pula dengan wanita yang mengenakan pakaian minim alias gaun dengan belahan rendah, hanya saja kondisi seperti ini telah lebih dapat diterima dalam tataran sosial.

Bahkan suatu  literatur menyebut perbedaan nyata dari eksibisionisme pada dasarnya merupakan 'wanita cenderung menunjukan segalanya tetapi tak dengan kelaminnya, sedangkan pria buka-bukaan begitu saja'.




Sumber : harianhealth

Share this article :
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Harian365 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger