Home » , , , , , , , , , , » Masjid Serba Merah yang Istimewa di Cirebon

Masjid Serba Merah yang Istimewa di Cirebon

Written By admin on Kamis, 08 Juni 2017 | Juni 08, 2017


harian365.com - Sebagai kota peninggalan Wali Songo, ada tidak sedikit masjid unik bersejarah di Cirebon. Hari ini kami bakal lihat Masjid Merah Panjunan yang warnanya serba merah.

Masjid Al Athya alias orang lebih mengetahui dengan Masjid Merah Panjunan selagi ini menjadi salah satu ikon wisata religi Kota Cirebon sebagai kota wali. Masjid yang berada di Panjunan, Lemahwungkuk, Kota Cirebon itu sesuai namanya mempunyai keunikan warna yang serba merah.

Meski tidak sebesar Masjid Agung Sang Cipta Rasa di depan Keraton Kasepuhan, tetapi warnanya yang khas membikin bangunan tersebut sangat mencolok. Sekilas menontonnya, traveler mungkin ini menyangka bangunan ala candi hindu alias malah Tionghoa sebab warnanya merah.

Terang saja kesan Hindu serta China kental terasa sebab masjid itu berdiri sebagai simbol akulturasi adat supaya Islam supaya dapat diterima masyarakat. 


"Agama tertua itu Hindu, serta Islam baru masuk akhir-akhir. Ornamen-ornamen yang ada di dalam masjid adalah khas China semacam aneka keramik serta piring-piring ini sebab dulunya tempat ini menjadi persinggahan pedagang China," ucap Imam Masjid, Buchori (62), terhadap hariantravel, Rabu (7/6/2017). 

Konon, kata Buchori, masjid ini tak dibangun dengan cara swadaya oleh masyarakat. Melainkan buah karya Pangeran Panjunan yang membikinnya selagi satu malam. Pangeran Prujakan sendiri adalah pria keturunan Timur Tengah yang menjadi salah satu murid Sunan Gunung Jati. 

Masuk ke pelataran masjid dapat langsung terkesan tembok yang berhias aneka keramik khas China yang tersusun rapi serta tetap terawat. Belasan tiang penyangga berkapasitas besar pun tetap terkesan kokoh menopang atap masjid. 


Di segi kanan tersedia suatu  sumur yang konon tak sempat kering. Sampai sekarang sumur tersebut tetap dipergunakan sebagai tempat mengambil air wudhu.

"Kadang ada juga ke sini orang yang sengaja minta air dari sumur itu. Ya biasanya ibu-ibu hamil," katanya. 

Di segi kiri tersedia suatu  makam yang diberi pembatas psupaya putih. Dipercaya itu merupakan makam dari Pangeran Panjunan. Tetapi tak ada keterangan yang dapat memastikan siapa yang dimakamkan di tempat tersebut. 

Sementara cocok di tahap depan alias tempat imam tersedia suatu  pintu. Di balik pintu tersebut tersedia suatu  ruangan yang sejak dahulu hanya dibuka saat Idul Fitri serta Idul Adha. 


"Mohon maaf tak dapat dibuka kecuali dua hari itu. Serta yang boleh masuk hanya pengurus masjid saja. Itu telah tradisi sejak zaman dulu," kata Buchori.

Saat ini masjid tersebut telah masuk dalam salah satu csupaya adat yang dilindungi pemerintah. Di kurang lebih masjid mayoritas merupakan kawasan kampung Arab serta tak sedikit warga keturunan Timur Tengah. Jadi lumayan tak sedikit penjual oleh-oleh khas Arab di kurang lebih masjid. 




Sumber : hariantravel

Share this article :
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Harian365 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger