Home » , , , , , , , , , , , » Masjid Raya Limokaum, Kubahnya Mirip Pagoda Buddha

Masjid Raya Limokaum, Kubahnya Mirip Pagoda Buddha

Written By admin on Senin, 12 Juni 2017 | Juni 12, 2017


harian365.com - Berwisata religi pada bulan Ramadan, jangan lewatkan berkunjung ke Masjid Raya Limokaum, Sumbar. Masjid unik ini punya bentuk kubah yang mirip pagoda Buddha.

Berkunjung ke Batusangkar, tidak hanya ke Istana Basa Psupayauyung, jangan lewati untuk menapaki sejarah Masjid Tua Minangkabau yang berada di Kansupayaian Limokaum sebagai tahap sejarah perkembangan Islam di Ranah Minang.

Sejarah pembangunan Masjid Raya Limokaum tak diketahui dengan cara pasti, namun berkaitan dengan Syekh Burhanuddin yang sukses mengislamkan daerah Limokaum. Pada waktu itu, Limokaum adalah kerajaan kecil dari wilayah kerajaan Minangkabau.

Berdasarkan cerita sejarah, masjid pertama yang dibangun di perkampungan kecil daerah Limokaum pada tahun 1650. Penamaan Limokaum sendiri adalah sebab di nsupayai itu tersedia lima kaum. Kelima kaum itu adalah, Kaum Dusun Tuo nan 4 Batua, Balai Batu Nan 5 Suku, Kampai III Tumpuak, Balai Labuah 6 Suku serta Kaum Kubu Rajo 3 Sandiang.

Lokasi masjid ini terletak kurang lebih 3 km dari pusat kota Batusangkar. Masjid Raya Limokaum berdiri di tempat yang dahulunya berdiri suatu  pagoda, seperti candi. Kehadiran pagoda tersebut mempengaruhi arsitektur masjid yang mencerminkan sinkretisme alias pencampuran paham antara Buddha serta Islam dalam pembangunannya.

Bangunan masjid bertingkat lima setinggi mencapai 55 meter, seperti pagoda yang menjulang tinggi namun telah dimodifikasi sebagai perlambang rukun islam.

Bangunan masjid terbuat dari kayu serta papan, mulai dari dinding hingga tiang. Atapnya semula terbuat dari ijuk, serta telah diganti dengan seng.

Saat ini, Masjid Raya Limokaum telah mengalami berbagai pembetulan yang diperbuat dengan cara swadaya, tergolong pembetulan serta pelebaran mihrab, pembuatan serambi, pembetulan serta pemasangan kaca pada jendela, pergantian bilah-bilah papan yang telah rapuh, serta pembuatan loteng.

Masjid Raya Limokaum didirikan jauh sebelum Belanda masuk ke Minangkabau, jadi tak ada pengaruh arsitektur Barat alias Belanda kepada bangunan masjid ini. Arsitektur masjid ini umumnya dipengaruhi oleh corak Minangkabau serta bentuk atap adalah sinkretisme antara Hindu-Budha dengan Islam.

Masjid ini berdiri di atas tanah berdenah segi-empat, menggantikan bangunan pagoda yang telah lama ditinggalkan penganutnya sebab memeluk Islam. Atap masjid ini dibangun berundak-undak setidak sedikit lima tingkat dengan permukaan atap yang tak datar melainkan cekung; tepat untuk daerah beriklim tropis seperti Minangkabau sebab bisa lebih cepat mengalirkan air hujan ke bawah.

Antara tingkatan atap yang satu dengan yang lain tersedia lubang untuk pencahayaan, sementara pada tingkatan teratas tersedia bangunan (puncak) berdenah segidelapan yang mempunyai berbagai jendela kaca dengan atap berbentuk limas.

Di dalam ruang utama, yang bermanfaat sebagai ruang shalat, tersedia tiang-tiang yang terbuat dari kayu dengan tiang mutlak berdiameter 75 cm serta tinggi mencapai 55 m; seluruh kayu yang dipakai dikumpulkan dengan cara bersama oleh masyarakat setempat selagi kurang lebih satu tahun dari Bukit Sangkiang hingga Bukit Dadieh Talago Gunuang.

Tiang mutlak ditutup dengan tripleks jadi membentuk segidelapan yang di dalamnya tersedia tangga naik ke tahap puncak yang berbentuk spiral alias melingkar ke arah kiri.

Dibagian dinding di ruang mutlak tersedia berbagai jendela di setiap sisi, yaitu enam di segi utara serta selatan ditambah empat di segi barat serta timur. Dinding tersebut berupa papan, begitu pula dengan lantai; kecuali lantai dibagian mihrab yang telah diganti dengan keramik.

Meski telah berbagai kali mengalami pembetulan, dinding serta lantai tersebut hingga sekarang tetap terbuat dari papan, begitu pula dengan tiang juga tetap terbuat dari kayu.

Di tahap timur sebelah selatan ruang mutlak tersedia bedug alias disebut tabuah dalam bahasa Minang yang terbuat dari pohon kelapa dengan diameter dari ujung ke ujung 27 cm hingga 60 cm serta panjang 220 cm.


Di sebelah timur alias di tahap depan tersedia serambi berupa ruangan yang tertutup dinding serta kaca dengan pondasi terbuat dari beton serta mempunyai pintu masuk dari utara serta selatan. Tidak hanya sebagai ruang peralihan, serambi itu juga dimanfaatkan sebagai tempat belajar Al-Qur'an serta tempat penitipan alas kaki.

Dibagian atas serambi tersedia menara berupa bangunan berdenah segidelapan dengan dua jendela kaca di setiap sisinya serta dimahkotai oleh seperti kubah berbentuk susunan buah labu yang megerucut ke atas.

Luar biasa bukan? Jadi, apabila berkunjung ke Batusangkar, jangan lewati menapaki Masjid Raya Limokaum yang berada di tengah-tengah hunian penduduk Jorong Tigo Tumpauk, Nsupayai Limokaum, Kecamatan Limokaum, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.




Sumber : hariantravel

Share this article :
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Harian365 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger