Home » , , , , , , , , , » Jangan Takut Kulit 'Gosong', Ini 4 Manfaat Sehat Rutin Berjemur

Jangan Takut Kulit 'Gosong', Ini 4 Manfaat Sehat Rutin Berjemur

Written By admin on Senin, 05 Juni 2017 | Juni 05, 2017


harian365.com - Sinar matahari diketahui bisa memberbagi tak sedikit kegunaaan bagi kesehatan tubuh. Sayangnya, tetap tak sedikit orang ragu berjemur sebab takut kulitnya menghitam.

Padahal asalkan diperbuat di jam yang cocok serta memakai tabir surya, kegunaaan dari berjemur bisa Kamu bisakan tanpa butuh khawatir kulit 'gosong'. 

Semacam dirangkum harianhealth dari beberapa sumber, berikut 4 kegunaaan ekstra bermain di bawah paparan sinar matahari:


1. Cegah penyakit jantung serta diabetes

Disampaikan oleh Stephen Pandol dari Cedars-Senai Medical Centre di Amerika Serikat. Menurut Pandol, berjemur sinar matahari serta mencukupi keperluan vitamin D bisa menolong mencegah penyakit sindrom metabolik.

Sebelumnya diketahui bahwa diet tinggi lemak bisa memicu sindrom metabolik. Tetapi saat ini para ilmuwan sudah menemukan bahwa ketidak lebihan vitamin D juga turut berperan dalam perkembangan risiko penyakit sindrom metabolik, tergolong diabetes.

"Berdasarkan penelitian ini, kita percaya bahwa mencukupi keperluan vitamin D, khususnya dari makanan serta melewati paparan sinar matahari, berguna untuk pencegahan serta pengobatan sindrom metabolik," tutur Pandol, semacam dikutip dari Times of India.


2. Perkuat imun

Siapa bilang berjemur tidak dapat bikin tubuh lebih sehat serta kuat? Gerard Ahern, peneliti dari Georgetown University, membahas bahwa kebiasaan selalu berjemur juga dapat menolong memperkuat kerja sistem daya tahan tubuh. Efeknya, Kamu dapat terhindari dari beberapa tipe penyakit.

Ya, berjemur di bawah sinar matahari juga memberbagi energi pada sel T. Sel T adalah salah satu sel yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh. Sel ini juga mempunyai peran penting dalam memerangi infeksi dalam tubuh manusia. "Kita semua tahu sinar matahari memberbagi vitamin D. Nah, paparan sinar matahari ternyata juga berakibat pada imunitas," ungkap Ahern.

Temuan ini menunjukkan produksi vitamin D membutuhkan sinar ultraviolet (UV). Nah, sinar matahari memberbagi paparan cahaya biru alias blue light dalam kadar aman serta menolong sel-sel T bergerak lebih cepat. Sinar biru dalam sinar matahari sanggup menembus lapisan dermis serta memberbagi akibat signifikan kepada aktivasi sel T.

"Sel-sel T butuh bergerak untuk meperbuat 'pekerjaan' mereka. Salah satunya untuk hingga menuju ke lokasi infeksi serta mengatur respons. Penelitian ini menunjukkan bahwa sinar matahari dengan cara langsung mengaktifkan sel-sel kekebalan tubuh dengan menambah gerakan mereka," imbuh Ahern.


3. Redakan insomnia

Psikolog klinis Kelly Glazer Baron berbicara olahraga lebih baik dari obat tidur dalam menanggulangi insomnia. "Dari satu penelitian yang kita perbuat terungkap wanita paruh baya yang mengidap tidak bisa tidur mengaku tidurnya membaik seusai berolahraga. Mereka juga mengaku lebih berenergi serta tak cenderung depresi lagi," katanya.

Meski demikian, peneliti tidur dari Arizona State University, Shawn Youngstedt berkata, olahraga mungkin tak semanjur obat tidur untuk menanggulangi insomnia. Hanya saja bila Kamu memperhatikan efek samping dari pengobatan, maka olahraga pasti lebih unggul.

Lalu berapa lama olahraga yang disarankan demi memperoleh istirahat yang optimal? Sebagian besar studi menyebut olahraga berintensitas sedang semacam aerobik selagi 2,5 jam perpekan, dikombinasikan dengan latihan kekuatan setidak sedikit 2 kali sepekan.

Selain aerobik, dapat juga dengan jalan cepat, bersepeda alias olahraga dengan alat bantu mesin di gym. "Lebih baik lagi diperbuat di luar ruangan sebab cahaya matahari dapat menolong membenahi pola tidur," tambah Youngstedt.


4. Cegah mata minus

Studi yang diperbuat oleh The London School of Hygiene and Tropical Medicine menemukan bahwa sinar ultraviolet B (UVB) pada sinar matahari berguna bagi kesehatan mata anak-anak. Khususnya untuk mengurangi risiko terjadinya miopi alias rabun jauh.

Tim peneliti yang dipimpin oleh Dr Astrid E. Fletcher meperbuat pengawasan kepada enam studi European Eye Study. Dari total 4.187 responden, ia mencari hubungan antara sinar matahari serta kejadian rabun jauh. Ditemukan bahwa terus tidak sedikit paparan sinar UVB pada usia 14-19 tahun serta 20-39 tahun, maka terus rendah risiko rabun jauh yang dimiliki.

"Hubungan antara paparan sinar UVB serta miopi perlu adaptasi masing-masing anak. Tetapi masih sebaiknya anak dibiarkan bermain di luar rumah, karena kegunaaannya tidak sekadar menyehatkan mata tapi juga yang lainnya," ucap Fletcher, dikutip dari Daily Mail.






Sumber : harianheakth

Share this article :
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Harian365 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger