Home » , , , , , , , , , » Foto #OTTRecehan, Akademisi: Berapapun Jumlahnya Tetap Mengecewakan

Foto #OTTRecehan, Akademisi: Berapapun Jumlahnya Tetap Mengecewakan

Written By admin on Rabu, 14 Juni 2017 | Juni 14, 2017


harian365.com - Akademisi hukum pidana dari Universitas Trisakti, Abdul Fickar, merespons gambar viral jaksa memegang tulisan #OTTRecehan. Dirinya merasa terjadinya operasi tangkap tangan (OTT) di kejaksaan itu terjadi sebab bentuk penglihatan yang tak berlangsung baik.

"Sistem penglihatan semacamnya tak berlangsung, program pembaharuan ataupun renumerisasi juga tak bisa menghentikan kebiasaan yang telah membudaya. Program penglihatan apapun tampaknya tak mampu untuk memberantas adat koruptif ini," papar Fickar dalam pesan singkatnya terhadap harianhot, Selasa (13/6/2017).

Menurutnya berapa pun kualitas dari tindak korupsi yang sukses diungkap tak bakal menghilangkankan hukuman terhadap aparat penegak hukum. Sebab bakal berimbas pada ketidakpercayaan publik terhadap lembaga adhyaksa itu.

"Berapapun jumlah yang di-OTT tak menghilangkankan hukuman terhadap penegak hukum, sebab akibat yang diperbuat sangat menjatuhkan dan memunculkan ketidakpercayaan masyarakat," imbuhnya.

Fickar bahkan menyarankan hukuman maksimal bagi penegak hukum yang terlibat korupsi berupa hukuman mati. Sebab wajib ada upaya penjeraan supaya adat koruptif bisa dirubah.

"Hukumannya wajib maksimal kalau butuh khusus hukuman untuk penegak hukum diubah sehingga hukuman mati, supaya ada penjeraan. 
Budaya koruptif hanya bisa dirubah dengan tauladan dari atasan, apabila atasannya tetap suka bermain-main politik dengan mekegunaaankan jabatan, jangan harapkan clean goverment bakal terwujud," tegasnya.

Hal senada juga dilontarkan, peneliti dari Indonesian Legal Roundtable (ILR), Erwin Natosmal Oemar, menurutnya terlalu prematur apabila menyebut kualitas OTT yang sukses diungkap KPK terhadap lembaga kejaksaan hanya recehan.

"Terlalu prematur untuk berbicara bahwa OTT KPK merupakan OTT Recehan. Ini baru tahap awal. Saya yakin bahwa OTT ini hanya pintu masuk untuk membaca jaringan koruptif yang lebih besar," katanya.

Erwin menyarankan supaya aparat penegak hukum tak terfokus pada jumlah penindakan dari OTT yang diperbuat oleh KPK, melainkan pelaku alias oknum yang terlibat dari perkara tindak pidana korupsi itu. "Iya, Jangan terlalu fokus ke jumlahnya. Tapi fokus ke aktornya. Sekecil apa pun korupsi yang diperbuat, tetap wajib ditangkap oleh KPK, apa lagi yang diperbuat oleh penegak hukum," imbuh Erwin.

Sebelumnya, ada dua gambar dengan hashtag #OTTRecehan. Seorang jaksa pria dan seorang jaksa wanita terkesan memegang suatu  kertas bertuliskan rasa kesedihan.


"Kami semakin bekerja meski biaya terbatas, kita tetap semangat meski tanpa pencitraan. Kinerja kita jangan kalian hancurkan dengan #OTTRecehan," begitu tulisan di salah satu gambar. 

Gambar itu viral seusai KPK meringkus seorang oknum jaksa bernama Parlin Purba yang menjabat sebagai Kasi III Intel di Kejati Bengkulu. Dirinya ditangkap KPK bersama 2 orang lainnya yaitu Amin Anwari dan Murni Suhardi.

Mereka ditangkap KPK pada Jumat, 9 Juni lalu, di Bengkulu. Parlin diduga menerima suap dari Amin dan Murni berkaitan dengan pengumpulan data dan bahan keterangan dan proyek-proyek yang ada di Balai Wilayah Sungai Sumatera VII Bengkulu.

KPK menyita uang Rp 10 juta dalam OTT itu. Tetapi KPK menyebut Parlin sebelumnya telah menerima Rp 150 juta terkait faktor serupa.




Sumber : harianhot

Share this article :
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Harian365 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger