Home » , , , , , , , , , » Bung Karno Menggali Pancasila dari Penjara Banceuy ke Pulau Ende

Bung Karno Menggali Pancasila dari Penjara Banceuy ke Pulau Ende

Written By admin on Kamis, 01 Juni 2017 | Juni 01, 2017


harian365.com - Pancasila yang saat ini adalah dasar negara Indonesia bukan langsung sehingga hanya semalam saja. Presiden pertama RI Sukarno sebagai penggali Pancasila telah lama merenungkan mengenai dasar Indonesia merdeka.

Bung Karno baru mendapat peluang untuk memberi tau pemikirannya itu dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada tanggal 1 Juni 1945. Namun rupanya apa yang dirinya hinggakan telah disusun sejak 16 tahun sebelumnya.

"Aku telah 16 tahun mempersiapkan apa yang hendak kukatakan. Dalam 'kuburanku' yang gelap di Banceuy, prinsip-prinsip yang bakal menjadi dasar dari republik telah mulai tampak dalam pikiranku," tutur Bung Karno terhadap Cindy Adams yang kemudian ditulis dalam buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Sukarno serta sejumlah rekannya digiring oleh polisi Belanda ke Penjara Banceuy pada Desember 1929. Mereka ditangkap sebab telah mendirikan Partai Nasionalis Indonesia (PNI) yang diketuai oleh Sukarno.

Seusai itu Sukarno dibawa ke pengadilan hingga akhirnya masuk ke Penjara Sukamiskin. Di pengadilan itulah dirinya membacakan pleidoi yang populer itu, 'Indonesia Menggugat'.

"Kami adalah menyerahkan segenap raga dengan seridho-ridhonya terhadap tanah air serta bangsa, juga kami adalah menyerahkan segenap jiwa terhadap bunda Indonesia dengan seikhlas-ikhlasnya hati. Juga kami adalah berbakti terhadap satu ideal yang suci serta luhur, juga kami adalah berusaha ikut mengembalikan haknya tanah air serta bangsa atas perikenasiban yang merdeka. Tiga ratus tahun, ya meski seribu tahun pun, tidaklah bisa menghapus haknya negeri Indonesia serta rakyat Indonesia atas kemerdekaan itu," ungkap Sukarno semacam dikutip dalam buku Panca Azimat Revolusi jilid I yang disusun Iwan Siswo tahun 2014.

Ketika itu belum ada ejaan yang disempurnakan. harianhot mengutip tulisan tersebut serta menyesuaikannya dengan ejaan yang disempurnakan.

Tulisan itu lumayan tebal serta menjabarkan beberapa faktor tergolong pemikiran para tokoh dunia. Sukarno juga bercerita bagaimana imperialisme serta kapitalisme masuk ke Indonesia sejak 300 tahun lamanya.

Pada tahun 1933, Sukarno kemudian menulis buku 'Mencapai Indonesia Merdeka'. Di awal tulisannya itu Sukarno menjabarkan mengenai penyebab Indonesia belum merdeka.

"Imperialisme raksasa itulah yang saat ini menggetarkan bumi Indonesia dengan jejaknya yang seberat gempa, menggetarkan udara Indonesia dengan guruh suaranya yang sebagai guntur, --mengaut-kaut di padang kerezekian negeri Indonesia serta rakyat Indonesia," kata Sukarno semacam dikutip dari buku yang sama.

Sukarno juga menjabarkan data kualitas ekspor dari tanah Indonesia yang mencapai 1,5 miliar rupiah di tahun 1930-an. Ketika itu pula Sukarno telah mengerucutkan dasar Indonesia merdeka yakni socio-nasionalisme serta socio-demokrasi.

"Partai pelopor harus dari saat ini mendidik massa itu ke dalam 'praktiknya' socio-demokrasi serta socio-nasionalisme, 'menyediakan' massa untuk laksananya janji socio-demokrasi serta socio-nasionalisme. Partai pelopor harus dari saat ini telah menebar-nebarkan benih kesama-rata-sama-rasaan di dalam kalbunya massa, menebar-nebar pula benih 'gotong-royong' di dalam hatinya massa," kata Bung Karno.

Soal socio-nasionalisme serta socio-demokrasi kemudian dirinya hinggakan lagi di pidatonya pada 1 Juni 1945. Kedua prinsip itu adalah perasan dari dasar pertama-kedua serta ketiga-keempat.

"Berpuluh-puluh tahun telah saya pikirkan dirinya ialah dasar-dasarnya Indonesia Merdeka, weltanschauung kita. Dua dasar yang pertama, kebangsaan serta internasionalisme, kebangsaan serta perikemanusiaan, saya peras menjadi satu. Itulah socio-nasionalisme. Serta demokrasi yang bukan demokrasi Barat, tapi politiek economische demokratie, yaitu politieke demokratic dengan sociale rechtvaardigheid, demokrasi dengan kesejahteraan, saya peraskan pula menjadi satu: inilah yang dulu saya namakan socio demokratie," tutur Sukarno di hadapan anak buah BPUPKI tahun 1945.

Kemudian dirinya mendapat ilham mengenai dasar negara yang menjadi pamungkas, yakni Ketuhanan, pada saat diasingkan ke Ende, Flores. Dirinya menyadari bahwa alam semesta, tergolong Indonesia, adalah ciptaan dari Tuhan Yang Maha Esa.

"Tempat aku menyendiri yang kubahagiai itu di bawah pohon sukun yang menghadap ke laut. Aku duduk serta memandang pohon itu. (...) Revolusi kami, semacam juga lautan, adalah hasil ciptaan Tuhan, satu-satunya Maha Penyebab serta Maha Pencipta. Serta aku tahu... aku harus tahu... bahwa semua ciptaan dari Yang Maha Esa, tergolong diriku sendiri serta tanah airku, berada di bawah hukum dari Yang Maha Ada," kata Sukarno di buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia di bab 'Pembuangan'.

"Di Pulau Flores yang sepi, di mana aku tidak mempunyai teman, aku telah menghabiskan waktu berjam-jam lamanya di bawah sebatang pohon di halaman rumahku, merenungkan ilham yang diturunkan oleh Tuhan, yang kemudian dikenal sebagai Pancasila. Aku tidak berbicara aku yang menciptakan Pancasila. Apa yang kukerjakan hanyalah menggali jauh ke dalam bumi kami tradisi-tradisi kami sendiri serta aku menemukan lima butir mutiara yang indah," kata Sukarno di buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia di bab 'Awal dari Akhir'.

Akhirnya dasar negara mengenai Ketuhanan disampaikan Bung Karno sebagai pamungkas. Meski terbaru disebutkan, bukan berarti Sukarno menempatkan Ketuhanan di paling belakang. 

"Hatiku bakal berpesta raya apabilalau Saudara-saudara menyetujui bahwa negara Indonesia Merdeka berasaskan Ketuhanan Yang Maha Esa," kata Sukarno dalam sidang BPUPKI.


Sejarawan UI Rushdy Hoesein dalam percakapan dengan harianhot, Rabu (31/5/2017) berpandangan bahwa sejak awal Sukarno telah memberi tau mengenai Ketuhanan Yang Maha Esa. Ketika pada Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945 pernah menjadi 'Ketuhanan dengan Keharusan Menjalankan Syariat Islam Bagi Pemeluknya'.

Perwakilan Indonesia timur kemudian tidak sependapat dengan 7 kata di sila tersebut. Akhirnya pada 18 Agustus 1945, 7 kata itu dihapuskan serta rumusannya menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa.

"Sama semacam pidato Sukarno pada 1 Juni," kata Rushdy.

Sukarno dalam pidato di BPUPKI juga telah memeras Pancasila menjadi Trisila: Socio-nasionalisme, Socio-demokratie, serta Ketuhanan. Jokowi juga memeras lagi 'trisila' menjadi 'ekasila'.

"Apabilalau saya peras yang lima menjadi tiga, serta yang tiga menjadi satu, maka bisalah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan 'gotong-royong'. Negara Indonesia yang kami dirikan haruslah negara gotong-royong," tutur Sukarno di tahun 1945 yang selaras dengan tulisannya di tahun 1933. 




Sumber : harianhot

Share this article :
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Harian365 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger