Home » , , , , , , , , , , » Bintik-bintik di Dada Wanita Ini Ternyata Gejala Kanker Langka

Bintik-bintik di Dada Wanita Ini Ternyata Gejala Kanker Langka

Written By admin on Minggu, 11 Juni 2017 | Juni 11, 2017


harian365.com - Bila diperhatikan dengan akurat, kulit orang bule sebetulnya tidak sepenuhnya putih, melainkan ada bintik-bintik kemerahan di sekujur tubuhnya. Tetapi apa yang ditemukan wanita ini agak tidak sama.

Rebecca Hockaday menemukan bintik-bintik tidak biasa itu di dekat payudaranya. Ia pun tidak ambil pusing sebab mengira itu sebab paparan sinar matahari.

Tetapi makin lama bintik-bintik itu makin bertambah tidak sedikit. Lama-lama Rebecca pun khawatir dan memutuskan mendatangi dokter kulit, enam bulan kemudian.

"Sejujurnya saya berpikir mereka bakal mengatakan itu hanya sun spots alias sebab penuaan kulit," katanya terhadap Today.com.

Hidup mengatakan lain. Dari hasil bipilihan dipastikan bahwa itu adalah kanker, cocoknya inflammatory breast cancer, tipe kanker payudara yang agresif dan langka. Ketika ditemukan, kanker itu sudah menyebar ke kelenjar getah bening wanita asal Watkinsville, Georgia tersebut.

"Tak sempat terlintas sekalipun dalam pemikiran saya bahwa itu adalah kanker," tambahnya.

Inflammatory breast cancer (IBC) adalah tipe kanker yang tidak lazim ditemukan dan ketika muncul, manifestasinya tidak semacam kanker payudara pada umumnya, yang biasanya terdeteksi lewat adanya benjolan di payudara.

"Dalam separuh permasalahannya tidak ditemukan benjolan alias apapun. Hanya perubahan kulit sehingga mudah sekali disalahpahami sebagai infeksi, mastitis alias sejenisnya," terang Dr Jean Wright dari Johns Hopkins Breast Cancer Program.


Selain bintik-bintik, Wright meningkatkankan bahwa gejala lainnya merupakan kulit payudara yang memerah alias pembengkakan. "Karakteristik lainnya merupakan ini terjadi begitu cepat. Biasanya satu bulan seusai perubahan signifikan pada kulit payudara Anda," lanjutnya.

Tak berapa lama kemudian, Rebecca segera diarahkan untuk menjalani kemoterapi selagi 16 pekan sebelum akhirnya kedua payudaranya wajib diangkat. Berikutnya, ia wajib bersi kukuh dari pengobatan radiasi yang intens dua kali sehari selagi sepekan, kecuali hari Sabtu serta Minggu.

Radiasi itu pun akhirnya merusak kulit serta melemahkan tubuhnya, bahkan sebagian tulangnya patah. Tetapi pengabdian itu tidak sia-sia. Di bulan September 2013 lalu alias 10 bulan seusai pengobatan, bunda dua anak itu dinyatakan terbebas dari kanker.

Hanya saja ia tetap wajib menghadapi sejumlah persoalan kesehatan terkait operasi rekonstruksi payudara yang dijalaninya semisal tetap adanya infeksi.

Wanita berumur 40 tahun itu juga tetap wajib mengonsumsi obat kemoterapi oral serta memperoleh injeksi bulanan mengingat tingkat kekambuhan IBC terbilang lumayan tinggi.


Sebagai bentuk antisipasi, dokter kulit Cameron Rokhsar membahas, payudara wanita rentan sekali mengalami iritasi, entah dari kegiatan semacam lari alias menyusui. Tetapi iritasi ini dapat datang serta berangkat dengan mudah. Yang butuh diwaspadai merupakan ketika iritasi itu tidak hilang-hilang selagi kemarin hari sebab ini dapat berarti gejala IBC semacam yang dialami Rebecca.

"Apabila mereka menonton ada ruam pada payudaranya yang tidak hilang hingga 1-2 pekan, apalagi seusai diolesi krim cortisone, maka temui dokter kulit," pesan Rokhsar yang berpraktik di Mount Sinai Hospital tersebut.

Rebecca meningkatkankan, inilah mengapa ia membagi kisahnya serta mendorong para wanita untuk proaktif ketika menemukan faktor yang tidak lazim pada tubuhnya.

"Anda takkan berpikir sejauh itu, sebab saya sendiri tidak merasa kesakitan, tidak ada gejala," tegasnya.





Sumber : harianhealth

Share this article :
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Harian365 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger