Home » , , , , , , , » Berpapasan dengan Pelaku Eksibisionisme, Harus Bagaimana?

Berpapasan dengan Pelaku Eksibisionisme, Harus Bagaimana?

Written By admin on Selasa, 06 Juni 2017 | Juni 06, 2017


harian365.com - Demi memperoleh kepuasan seksual, pelaku eksibisionisme tidak segan untuk menunjukan kemaluannya terhadap orang asing. Tidak heran apabila kemudian 'korbannya' merasa kaget, panik ataupun ketakutan.

Menurut ahli, ekspresi ketakutan alias terkejut inilah yang justru diinginkan oleh si pelaku eksibisionisme, bahkan ada yang berbicara inilah yang membikin mereka merasa fantasi seksualnya terpenuhi.

Itulah mengapa biasanya pada permasalahan tertentu, ada pelaku eksibisionisme yang hingga bermasturbasi di hadapan 'korbannya'. Tidak hanya itu, pada dasarnya eksibisionis tidak hingga meperbuat kontak seksual dengan cara langsung dengan si 'korban'.

Lantas bagaimana sebaiknya bersikap ketika berjumpa dengan pelaku eksibisionisme? Menurut dr Andri, SpKJ, FAPM dari Klinik Psikosomatik, RS Omni Alam Sutera membicarakan, sebab yang diinginkan si eksibisionis merupakan kaget alias terkejutnya orang lain terhadap perilakunya, jadi ada baiknya si 'korban' tidak terkejut.


"Jadi biasa saja sikapnya. Kalau kami biasa saja, malah membikin dirinya bakal lebih tidak enjoy sebab tujuannya tidak sukses," sarannya saat berbincang dengan harianheatlh, Senin (5/6/2017).

dr Andri meningkatkankan, dapat juga dengan berpaling alias tidak mau menonton saja, namun yang paling penting upayakan untuk tidak terlalu heboh menanggapinya, apalagi hingga berteriak-teriak sebab seakan-akan 'menuruti' hasrat si pelaku eksibisionisme.


Untungnya dr Andri juga berbicara eksibisionisme sebetulnya bisa disembuhkan. "Pertama-tama kami lakukan psikoanalitik, utamanya mencari dasar dari lakukanan eksibisionisme yang dilakukan jadi orang tersebut akhirnya bisa menyadari apakah terbukti sebab inferioritasnya ataukah sebab persoalan lainnya," paparnya.

Ada berbagai tipe terapi yang bisa diberbagi terhadap seseorang dengan kecenderungan eksibisionisme, salah satunya terapi perilaku serta pemberian obat-obatan yang sifatnya merubah hormon si pelaku.


Sedangkan apakah eksibisionisme bisa dicegah alias tidak, psikolog seksual Zoya Amirin, M.Psi berbicara ini dikembalikan terhadap pribadi masing-masing. 

"Yang paling mungkin merupakan kini cobalah ketika Kamu telah mulai keluar hasrat untuk memamerkan faktor tersebut, Kamu wajib bayangkan bahwa Kamu tak bakal sempat memperoleh hubungan alias membina hubungan yang sehat dengan perempuan," katanya dalam rubrik konsultasi harianhealth berbagai waktu lalu.

Bila yang bersangkutan merasa tak butuh dengan perasaan semacam itu tapi sebaliknya hanya ingin menikmati saja, maka Zoya menyarankan yang bersangkutan supaya berkonsultasi dengan pakarnya sebab bisa dipastikan ini merupakan eksibisionisme, jadi butuh memperoleh penanganan segera.




Sumber : harianhealth

Share this article :
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Harian365 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger