Home » , , , , , , , , , » Bagaimana Pengaruh Krisis Politik Qatar terhadap Indonesia?

Bagaimana Pengaruh Krisis Politik Qatar terhadap Indonesia?

Written By admin on Rabu, 07 Juni 2017 | Juni 07, 2017


harian365.com - Tujuh negara sudah memutus hubungan diplomatik dengan Qatar, tergolong di antaranya Arab Saudi serta Uni Emirat Arab. (Getty Images)
Krisis politik yang terjadi di Timur Tengah akibat negara-negara di kawasan memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar dikhawatirkan bakal berakibat ke negara-negara lain.

Bagaimana dengan Indonesia?

Qatar mempunyai sejumlah investasi di Indonesia meliputi bidang keuangan perbankan serta komunikasi, antara lain melewati Qatar National Bank QNB serta kepemilikan saham Indosat Ooredoo.

Selain itu lembaga sosial di Qatar juga aktif mengucurkan sertaa bantuan ke Indonesia tergolong untuk bencana Tsunami di Aceh pada Desember 2004 lalu.

Qatar adalah salah satu negara tujuan bagi buruh migran Indonesia yang bekerja di sektor domestik, pertambangan maupun jasa.


Akibat ke investasiQatar di Indonesia
Qatar adalah salah satu investor paling besar di Indonesia antara lain di industri telekomunikasi, perbankan serta ritel, semacam data Kementerian Perindustrian. Dalam lima tahun terbaru tercatat perdagangan Indonesia serta Qatar meningkat dengan rata-rata 3,87%.

Di tahun 2011 kualitas perdagangan kedua negara mencapai US$683 juta serta hingga September 2016 meningkat menjadi US$828 juta.

Pengamat Timur Tengah Smith Al Hadar berbicara investasi Qatar ke Indonesia lebih besar dibandingkan dengan negara-negara Arab lainnya, serta justru diperkirakan bakal meningkat dengan adanya krisis politik Qatar dengan negara-negara di Timur Tengah.

"Dengan rusaknya hubungan Qatar dengan anak buah Dewan Kerja Sama Teluk tergolong dengan negara Arab yang lain semacam Mesir serta Yaman, malah ada kemungkinan, sebab terisolasi di kawasan, Qatar dapat mengalihkan kerja sama bisnis di Asia. Krisis Qatar ini menurut saya berakibat positif kepada Indonesia," jelas Al Hadar.

Dana bantuan sosial
Dana bantuan dari lembaga sosial di Qatar disalurkan melewati Qatar Charity sejak 2005 seusai bencana tsunami di Aceh. Qatar Charity adalah lembaga non pemerintah di Qatar yang berdiri sejak 1984 lalu.

Dalam situsnya, Qatar Charity menolong meperbuat proses rekonstruksi serta rehabilitasi di Aceh, serta mendirikan cabang di Indonesia sejak 2006 lalu untuk menyalurkan sertaa bantuan sosial.

Salain Qatar Charity, lembaga lain yang memperoleh sertaa bantuan dari Qatar yaitu Yayasan Ash Shilah di Jakarta yang berdiri sejak 2009 lalu. Direktur pelaksana Yayasan Ash Shilah, Nurhadi, berbicara setiap tahun memperoleh sumbangan kurang lebih RP 30 Miliar yang dipakai untuk bantuan sosial.

"Jadi kepentingannya untuk menolong masyarakat Indonesia yang tidak mampu, di antaranya santunan yatim, donasi untuk pernikahan para pemuda yang tidak dapat mempunyai performa untuk menikah, sejauh ini berlangsung dengan baik Alhamdulillah," kata Nurhadi.

Dia berbicara hingga awal Juni ini jumlah anak yatim yang disantuni mencapai 2.000 anak yang tersebar di beberapa daerah, serta ada juga yang ditempatkan di panti milik yayasan di Aceh.

Selain itu, dengan sertaa dari Qatar, Yayasan Ash Shilah dengan cara selalu menggelar pernikahan massal untuk warga miskin.


Dana bantuan itu berasal dari lembaga Sheikh Eid bin Mohammad Al Thani Charitable Assosiation serta Raf Foundation. Nurhadi mengaku bantuan dari Qatar itu diberbagi tanpa syarat khusus.

"Ya mereka syaratkan itu lebih ke legal formalnya, semacam Yayasan Ash Shilah itu terdaftar ke kementerian hukum serta HAM, setiap kegiatan ada ijin dari kelurahan serta kecamatan, " kata dia.

Dia berharap krisis di Qatar tidak mempengaruhi penyaluran sumbangan ke Indonesia.


Seorang pekerja tengah membangun rumah sementara untuk pengungsi korban tsunami Aceh. (JEWELSAMAD/AFP/GettyImages)
Pengamat Timur Tengah Smith Al Hadar berbicara sumbangan sertaa dari Qatar ke Indonesia lebih tidak sedikit berupa bantuan sosial, serta tidak sama dengan model sumbangan dari Arab Saudi yang berfungsi untuk menanamkan pengaruh ke negara-negara penerima bantuan.

"Di Qatar lebih tidak sedikit yang tidak begitu hebat perhatian kepada gerakan Islam di Indonesia, tidak sama dengan Arab Saudi yang justru memberbagi bantuan terkait upaya Saudi menanamkan pengaruh ke negara-negara tergolong Indonesia," kata Al Hadar.

Perlindungan Buruh Migran
Qatar adalah salah satu negara tujuan bagi buruh migran Indonesia, khususnya yang bekerja di sektor domestik, pertambangan serta jasa. Data Migrant Care menyatakan ada 75.000 orang buruh migran Indonesia di Qatar.

Meski dengan cara resmi pemerintah Indonesia memberperbuat penghentian pengiriman tenaga kerja untuk sektor domestik ke sejumlah negara Arab tergolong Qatar sejak 2015 lalu, namun menurut Wahyu Susilo dari Migrant Care, pengiriman tetap semakin berjalan.

"Yang domestik tidak sedikit ilegal, serta ada juga yang berada di Qatar sebab dibawa oleh maapabilannya yang adalah warga negara yang bersengketa dengan Qatar, Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain," jelas Wahyu.

Dia berbicara sebaiknya pemerintah membikin pusat krisis untuk menolong para buruh migran yang terakibat krisis tersebut.

"Antisipasi ya seandainya ada hal-hal yang kami tidak inginkan terjadi, apa ada yang paling kini dirasakan buruh migran di sana adalah kesusahan untuk bermobilitas, tidak sedikit kawan-kawan mau pulang sebelum lebaran besok, dirinya telah order tiket, telah tidak boleh lagi ada penerbangan ini yang repot bagi mereka," kata Wahyu.


WNI juga ada yang bekerja di proyek pembangunan di Qatar. (Reuters)
Persoalan tiket mudik ini juga dialami warga Indonesia yang suaminya bekerja di sektor perminyakan, Amval Khaira.

Amwal berkata, sebelum Ramadan ia sudah membeli tiket dengan harga promo yang ditawarkan Etihad untuk tujuh orang, tergolong suami, anak-anak serta pekerja rumah tangganya.

Dia berencana ke kantor perwakilan Etihad, pada Selasa ini untuk memastikan kepulangannya ke Indonesia.


"Apakah mereka dapat menukar dengan flight yang lain ada tidak, itu saja yang membikin kami resah," jelas Amwal.

Sementara untuk remitansi dari para buruh migran, menurut Wahyu tak bakal terlalu terpengaruh oleh krisis politik ini, sebab terbukti jumlahnya semakin menurun setiap tahun, khususnya sejak diberperbuat moratorium pengiriman tenaga kerja sektor domestik.




Sumber : harianhot

Share this article :
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Harian365 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger