Home » , , , , , , , , , » Oek, oek! Tangisan Bayi Jadi Suara Alarm Persalinan di Desa Ini

Oek, oek! Tangisan Bayi Jadi Suara Alarm Persalinan di Desa Ini

Written By admin on Sabtu, 20 Mei 2017 | Mei 20, 2017


harian365.com - Suara bayi yang sedang menangis sehingga suara sirine yang unik. Itu adalah suara sirine persalinan di desa-desa di Kecamatan Kerinci Kanan, Kab Siak Riau. Oek, oek!

Alarm persalinan ini digagas para bidan desa setempat. Sehingga ketika sirine persalinan berbunyi itu tandanya bakal segera ada bunda yang bakal melahirkan.

harianhealth menyempatkan diri untuk mampir ke UPTD Puskesmas Kerinci Kanan, Kab Siak, Kamis (18/5/2017). Puskesmas ini letaknya kurang lebih 50 meter dari tepi jalan lintas yang menghubungkan antara Kabupaten Siak dan Pelalawan, alias terpaut kurang lebih 90-an km dari Pekanbaru.

Bentuk puskesmas ini, tidak jauh beda dengan puskesmas pada umumnya. Halamannya ditumbuhi rumput yang menghijau. Di dalam ada tempat pendaftaran pasien dan ruang tunggu dengan kursi-kursi yang tersusun rapi.

Didampingi camat setempat, MH Hassanal Lutfi, harianhealth memasuki ruangan 'operator' sirine persalinan di aspek sebelah kiri bangunan. Nyatanya ruangan 'operator' ini tidak seribet yang dibayangkan. Pengoperasian sirine persalinan hanya bermodalkan laptop yang terletak di atas meja kerja pada bidan yang dipimpin Kepala Puskesmas, dr Dea Sari bersama stafnya 6 bidan. 

Mereka adalah, Fenny Ulya Pratama, Rina Siburian, Ruth Ulyasih, Nurul Hidayah, Elti Riani, Elsa Febrianti dan Berta Karo-karo. Berta Karo-karo adalah bidan koordinator yang membawahi sejumlah bidan desa lainnya. Untuk diketahui, di kecamatan tersebut tersedia 12 desa.

Sistem kerja sirine persalinan yang tetap off-line ini sangat sederhana. Seluruh bidan desa harus mengabarkan para bunda hamil melewati jaringan BBM dan WA ke bidan koordinator. Data-data bunda hamil itu lantas diinput dalam komputer. Apa saja datanya? Ada nama bunda hamil, anak ke berapa yang bakal lahir, nama suami, alamat, dan perdiksi bakal melahirkan dengan waktu hitungan 9 bulan 10 hari.

Seusai semuanya masuk database, operator setiap hari bakal memeriksa ke database siapa kira-kira bunda hamil yang bakal melahirkan. Apabila telah sesuai dengan tanggal perdiksi bakal melahirkan, begitu ada bunda hamil yang bakal melahirkan bakal terdengar suara sirine bayi menangis.




"Jadi kami setiap hari membuka database ini. Apabila di-enter ada suara tangisan bayi, maka berarti ada bunda hamil yang bakal melahirkan. Di sana bakal jelas nama ibu, alamat, nama suami serta nama bidan desanya," kata Berta Karo-karo terhadap harianhealth.

Alarm persalinan ini telah dibangun sejak tahun 2015 serta baru dioperasikan dengan cara maksimal awal tahun 2016 lalu. Dengan pendeteksi tersebut, diinginkan dapat mengurangi angka kematian bunda (AKI) serta angka kematian bayi (AKB).

Memudahkan Pemantauan

Software sirine persalinan ini meski tetap offline, tapi telah sangat memudahkan untuk mengenal para bunda hamil di sana. Jumlah penduduk di Kecamatan Kerinci Kanan, kurang lebih 20.792 jiwa. Rasio rata-rata bunda hamil setiap tahunnya diperkirakan 2,6 persen dari jumlah penduduk alias kurang lebih 510 angka bunda hamil.

Untuk tahun 2017 ini, pada April tercatat ada 169 bunda hamil serta yang telah melahirkan 151 orang. Semuanya terpantau lewat software sirine persalinan.

"Sejak tahun 2015 hingga 2017 di tempat kami tak ditemukan AKI. Ada 4 bayi yang mati pada tahun 2017. Tetapi itu bukan sebab tak terpantau, tapi sejak kandungan bayi ini telah terdeteksi ada kelainan. Misalkan, tanpa batok kepala. Itu semua telah terprediksi lewat cek USG," tambah bidan Elsa Febrianti.

Dengan software sirine persalinan ini, koordinator bidan di puskesmas bakal setiap harinya mengamati perkembangan para bunda hamil. Sekalipun belum waktunya melahirkan, bidan desa harus mengontrol para bunda hamil untuk meperbuat pemeriksaan minimal 4 kali selagi kehamilan.

Mesikipun kadang tak semua bunda hamil melahirkan dengan persalinan bidan desa, tetapi pihak Puskesmas tetap bakal mencatat dengan rapi dimana bunda hamil itu melahirkannya. Sebab dapat jadi, ada persalinan yang di kampung halamannya, alias di luar kota.

"Kami tetap bakal mendata dengan cara lengkap. Dicatat, kapan lahirnya, berapa berat bayinya, lewat persalinan normal alias tidak. Semuanya tetap kami input," kata Elsa.

Di data sirine persalinan ini, juga diberi tanda ada warna biru serta merah di setiap bunda hamil. Tanda biru biasanya dianggap kehamilan yang normal yang dilihat dari usia ibu, tinggi badan serta yang lainnya. Sedangkan tanda merah yang ada di data software, kriterianya, bunda hamil dengan usia di atas 40 tahun, alias anak ke 2 alias ke 3 serta sesemakinnya.

"Untuk bertanda merah ini, kami rutin peringatkan bidan di desa untuk mengamati faktor itu. Sebab tanda merah ini rawan dibandingkan bunda hamil tanda warna biru. Lewat software itu semuanya terkontrol dengan cermat kondisi serta perkembangan si ibu," kata Elsa.

Zero AKI

Dengan software ini, maka sirine persalinan ala bidan desa di Siak ini, dapat mengurangi AKI serta AKB. Sebab selagi ini penyebab kematian bunda hamil di Indonesia 80 persen sebab komplikasi. Misalkan, perdarahan, infeksi, hipertensi kehamilan. Sedangkan 20 persen lagi sebab faktor telat dalam mengambil keputusan, telat hingga ke tempat rujukan, serta telat dalam memperoleh pelayanan di fasilitas kesehatan.

"Alhamdulilah, dengan software ini kami zero AKI. Software ini sirine persalinan ini semakin kami sosialisasikan ke perangkat desa serta seluruh masyarakat untuk mencegah kehamilan lewat waktu," kata Kepala Puskesmas Kerinci Kanan, dr Dea Sari.

Menurut dr Dea, awalnya sirine persalinan ini ditandai dengan suara nada dering sebagaimana lazimnya yang ada di HP. Akhir-akhir nada dering itu atas saran Kepala Dinas Kesehatan Kab Siak, dr Tonny Candra nada dering persalinan diganti menjadi suara tangisan bayi. Begitu database berdering suara tangisan bayi, itu bertanda ada bunda yang bakal melahirkan.

Apabila telah suara tangisan bayi, bidan desa menuju lokasi bunda hamil. Kalaupun saat itu bunda hamil belum ada tanda-tanda bakal melahirkan, pihak Puskesmas bakal merujuk bunda tersebut ke dokter spesialis ke rumah sakit umum. Pihak medis hanya memberbagi batas waktu 4 hari ke depan.


"Apabila batas empat hari belum juga melahirkan, maka itu bertanda ada persoalan. Kami bakal tetap sarankan untuk diambil perbuatan medis," kata dr Dea.

Walau kadang, katanya, tetap ada persepsi masyarakat melebihi batas waktu melahirkan dianggap faktor yang biasa sebab telah turun temurun faktor itu diperbuat warga. Tetapi dari sisi medis, tetap disarankan untuk diambil tindakan.

"Kan terbukti tetap ada mitos di tengah masyarakat, ada yang melahirkan hingga 10 bulan serta itu faktor biasa. Tapikan dari sisi medis ini jelas tak normal. Di sinilah kadang kami rutin memberbagi arti terhadap bunda hamil serta suaminya untuk dapat menerima anjuran dari kami diambil perbuatan medis," tutup dr Dea.

Ide para bidan desa ini, nyatanya hanya ada satu-satunya di Indonesia. Itu sebabnya, sirine persalinan dengan teknologi sederhana serta anggaran terjangkau ini, juga diikutsertakan dalam metode pelayanan publik di Kementeria PAN RB. Dari 3500-san pelayanan publik yang diajukan dari seluruh instansi pemerintah yang ada di Indonesia ini, sirine persalinan masuk dalam 99 pelayanan publik paling baik.





Sumber : harianhealth

Share this article :
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Harian365 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger