Home » , , , , , , , , , » Kisah Lisa, Pengidap Sindrom Langka yang Kini Jadi Guru di Bekasi

Kisah Lisa, Pengidap Sindrom Langka yang Kini Jadi Guru di Bekasi

Written By admin on Senin, 01 Mei 2017 | Mei 01, 2017


harian365.com - Saat tetap duduk di bangku kuliah semester dua di perguruan tinggi swasta, Lisa Fajar Masita (34) merasa nasibnya normal-normal saja, walau terbukti ada yang tak sama dengan wajahnya. Siapa sangka nyatanya wanita ini mengalami sindrom langka.

Awalnya Lisa mengaku mengalami gangguan pendengaran pada telinganya. Kemudian ia ke rumah sakit untuk mengecekkan diri ke dokter. Saat itulah, ia mulai menyadari ada yang tak selesai.

"Saya kok pendengarannya beda dengan yang lain. Tes pendengaran di RSCM (RS Cipto Mangunkusumo), seorang perawat berbicara pada saya, kayaknya TCS (Treacher Collins Syndrome)," kata Lisa.

Sindrom Treacher Collins sendiri merupakan kelainan genetik langka yang dicirikan dengan perubahan bentuk wajah. Gejalanya antara lain pendengaran tak lebih, rahang sangat kecil, serta kelopak mata ke bawah.

Ketika itu perempuan yang disapa Ica alias Caca ini tak mengenal sama sekali, ditambah istilah itu terdengar asing bagi dirinya. Demikian juga orang tuanya. Menurutnya juga, dahulu, kedokteran belum semacam kini ini serta jalan masuk internet tetap terbatas. 

"Saya ke warnet semakin googling, saya pikir cuma saya sendiri yang semacam ini," tutur perempuan berhijab ini.

Pada akhirnya, di tahun 2016 ia berjumpa sekaligus bergabung bersama Indonesia Rare Disorders (IRD), suatu  komunitas pendukung bagi penyandang serta keluarga dengan kelainan langka di Indonesia.


"Saya ketemu komunitas, ketemu dengan Mbak Yola, oh nyatanya saya nggak sendirian," imbuhnya.

Dalam kesehariannya, Lisa merasa tak ada yang tak sama dengan yang lainnya. Sebab, dari kecil ia tetap menempuh pendidikan formal di sekolah negeri. Bahkan saat ini, lulusan psikologi ini menjadi seorang guru di suatu  sekolah menarik bilangan Jatimakmur, Bekasi, Jawa Barat.

"Sebab orang tua saya nggak tahu, saya diperperbuat semacam umumnya, sekolah di sekolah negeri dari SD, SMP, SMA," tandas Lisa.




Sumber : harianhealth

Share this article :
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Harian365 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger