Home » , , , , , , , , , , » Kisah drg Dewi Natalia Menghadapi Pasien Bergigi Merah

Kisah drg Dewi Natalia Menghadapi Pasien Bergigi Merah

Written By admin on Sabtu, 06 Mei 2017 | Mei 06, 2017


harian365.com - Menghadapi pasien dengan gigi kekuningan mungkin telah biasa bagi dokter gigi. Tapi bagaimana apabila pasiennya bergigi merah? Inilah pengalaman yang sempat dialami drg Dewi Natalia Manto saat bertugas di daerah perbatasan Indonesia serta Timor Leste.

Ya, masyarakat setempat tetap tak sedikit yang mempunyai kebiasaan makan pinang serta sirih. Kebiasaan ini pasti meninggalkan noda-noda merah bekas pinang sirih di mulut, terutama di gigi mereka. Faktor ini membikin tak sedikit pasien bergigi merah sehingga malu-malu saat membuka mulut untuk diperiksa.

"Efek dari si pinang, itu kan dirinya pewarnaan, kemudian periodontitis, kadang lucunya ini pasiennya malu, 'aduh dokter tapi saya makan sirih pinang, saya malu sekali, saya tak mau dibuka, lah gimana saya mau periksa," ujar drg Dewi yang berbakti di Atambua, terutama di Desa Silawan, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur ini sambil tertawa.

"Kalau sisa-sisanya itu masuk ke sela-sela gusi itu yang bikin debris-debris, kemudian sehingga kalkulus alias karang gigi. Nah, gusinya itu turun kan perjalanan periodontitis," tambah anak kedua dari empat bersaudara ini.

Lalu bagaimana awalnya perempuan asal Ambarawa, Jawa Tengah ini bisa hingga bertugas di Atambua? "Saya kan ke Atambua ini ikut suami. Bulan Agustus 2016 saya apply di dinas kesehatan Belu, baru saya bisa SK ditempatkan di Puskesmas Silawan," tutur alumnus Universitas Padjajaran, Bandung ini.

Dinas di luar Jawa sebetulnya bukan pengalaman baru. Karena sang ayah yang dulunya sebagai dokter umum pegawai tak tetap di provinsi NTT.




Nah, sebagai dokter gigi satu-satunya yang bertugas di Puskesmas Silawan, pasti drg Dewi mempunyai tantangan tersendiri yaitu bahasa. Jadi tak jarang kali ia membutuhkan pendamping dari lokal untuk menolong menerjemahkan. 

"Tapi makin ke sini telah tahu sedikit-sedikit. Suami orang sini asli," ujar drg Dewi.

Perempuan usia 26 tahun ini rela bolak-balik dari rumah ke puskesmas dengan jarak tempuh 20 km memakai sepeda motor walau jalan masuk jalan rawan terjatuhnya batu-batu, terlebih saat hujan turun. "Kalau umpama hujan ini kan di daerah situ suka ada batu-batu jatuh. Saya kan pakai motor, licin," kata drg Dewi yang juga praktik di RS Tentara Wirasakti, Atambua.


Tidak semacam di kota besar yang saat ini telah tak sedikit menyediakan fasilitas-fasilitas hebat untuk mempermudah aktivitas. Tak sama dengan Desa Silawan, daerah perbatasan RI serta Timor Leste, yang hanya menyaapabilan pemandangan pohon-pohon serta jalanan yang sepi. Pasti ini membikin drg Dewi tak tidak sedikit meperbuat kegiatan lain tidak hanya mengecekkan gigi pasien serta memberbagi penyuluhan ke sekolah-sekolah.

"Cuma kalau aku sih sebab anak serta suami di sini jadi itu yang jadi motivasi serta semangat ndak gitu kecewa-kecewa juga," tandas drg Dewi.




Sumber : harianhealth


Share this article :
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Harian365 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger