Home » , , , , , , , , , , » Efek Tidur Kurang Bisa Lebih Bahaya pada Orang-orang Seperti Ini

Efek Tidur Kurang Bisa Lebih Bahaya pada Orang-orang Seperti Ini

Written By admin on Selasa, 30 Mei 2017 | Mei 30, 2017

'


harian365.com - Tidak lebih tidur terbukti tak baik untuk kesehatan. Bakal namun bila yang tak lebih tidur juga telah mempunyai faktor risiko penyakit jantung serta diabetes, bahayanya bisa berlipat ganda lho.

Penelitian terakhir yang diperbuat Julio Fernandez-Mendoza, pakar psikologi tidur dari Sleep Research and Treatment Center, Penn State's Milton S Hershey Medical Center berkata, tidur tak lebih dari 6 jam setiap hari bisa menambah risiko kematian dampak penyakit jantung serta stroke setidak sedikit dua kali lipat.

Peringatan ini berlaku bagi mereka yang telah mempunyai faktor risiko penyakit jantung serta diabetes sebelumnya, alias biasa disebut dengan sindrom metabolik. 

Sindrom metabolik sendiri terdiri atas tekanan darah tinggi, kadar kolesterol jahat (LDL) yang tinggi, gula darah tinggi, obesitas serta kadar lemak darah alias trigliserida yang tinggi. 


Julio mendapatkan kesimpulan ini seusai memantau lebih dari 1.300 pria serta wanita berumur rata-rata 49 tahun yang diminta menginap di laboratorium selagi satu malam. 39 Persen partisipan mempunyai setidaknya tiga faktor risiko.

17 Tahun kemudian diperbuat studi lanjutan serta 22 persen partisipan dilaporkan telah meninggal dunia.


Menurut Julio, penyebabnya bisa beragam. Salah satunya dari sudut gaya nasib. "Bisa jadi mereka yang mempunyai sindrom metabolik serta tak lebih tidur juga cenderung lebih sedenter (menghabiskan waktu untuk duduk-duduk) serta pola makannya kurang baik, jadi menambah risiko penyakitnya," terangnya semacam dilaporkan Web MD.

Ditambah lagi, tak lebih tidur sendiri telah sanggup menaikkan risiko kematian dini, utamanya bagi mereka yang memilik tekanan darah serta kadar gula darah tinggi.

"Mereka yang mempunyai sindrom metabolik serta tak lebih tidur jadi lebih berpersoalan kaitannya dengan sistem saraf anatomik serta metabolismenya," lanjut Julio.

Akan namun Julio menegaskan, keterkaitan antara tak lebih tidur setingginya risiko kematian dini tak bersifat sebab-dampak, artinya tetap bisa dimodifikasi mesikipun tak bisa disepelekan begitu saja. 


Kaitannya dengan bulan puasa, jam tidur biasanya terpotong untuk makan sahur, bakal namun umat Muslim tak disarankan untuk langsung tidur begitu makan sahur berakhir.

Dr dr Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP, konsultan penyakit lambung serta pencernaan dari FKUI/RSCM membahas, ini sebab asam lambung bisa kembali ke kerongkongan serta mengdampakkan persoalan pada saluran cerna.

Kendati demikian, produktivitas kerja bisa tetap terjaga walau jam tidur terpotong. dr Andreas Prasadja, RPSGT menyarankan supaya mereka yang berpuasa untuk tidur siang.

"Sebab jam tidur kan telah terpotong waktu sahur. Makanya diperlukan tambahan tidur. Tidur siang bisa jadi solusinya," tutur pria yang bersahabat disapa dr Ade ini, dalam percakapan dengan harianhealth berbagai waktu lalu.


Durasi tidur siang pada bulan puasa maupun di hari biasa sama saja, yaitu tetap 30 menit. Namun untuk pekerja kantoran, waktu tidur siang terbukti tergantung pekerjaan serta kondisi kantor masing-masing. Apabila terbukti memungkinkan untuk tidur siang selagi 30 menit, menurut dr Ade faktor ini telah sangat bangus.

"Tapi pun kalau nggak bisa ya 10-15 menit juga nggak apa-apa. Lalu maksimalkan juga tidur di perjalanan umpama yang naik kereta bisa tidur di jalan, sehabis subuh juga bisa tidur, asal jangan saat mengemudi ya," pesannya.




Sumber : harianhealth

Share this article :
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Harian365 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger