Home » , , , , , , , , , » Choking Game Makan Korban Lagi, Begini Rekomendasi Pakar

Choking Game Makan Korban Lagi, Begini Rekomendasi Pakar

Written By admin on Rabu, 24 Mei 2017 | Mei 24, 2017


harian365.com - Satu lagi korban jatuh gara-gara choking game. Korban hanya dilaporkan siswa sekolah menengah atas di New Jersey, namun pihak sekolah menutupi bukti dirinya.

Mereka juga tak membahas apakah siswa tersebut meninggal dampak choking game dengan tutorial mencekik dia sendiri alias lewat bantuan kawannya.

Ironisnya, tahun lalu di satu distips yang sama juga tercatat telah ada tiga siswa yang meninggal dampak permainan ini. Yang pertama merupakan Martha Moye (29 Maret 2016), Kyra O'Dwyer (9 Desember 2016) serta terbaru, Gage Dobson (28 Februari).

Hal ini mendorong Nick Markarian, pengawas Bernards Township School District untuk melayangkan surat peringatan terhadap para orang tua siswa mengenai kematian siswa yang dikaitkan dengan tantangan mematikan tersebut.

"Butuh ditekankan bahwa telah ada penelitian yang menyebut anak-anak yang mencoba permainan ini meninggal dengan cara tragis seusai mencobanya untuk pertama alias kedua kali," tegas Nick.

Nick meningkatkankan, permainan ini dapat diperbuat dengan berbagai cara, semisal menahan napas alias mencekik lehernya dengan alat tertentu.

"Padahal segala tipe asma dapat mengdampakkan stroke, kejang, kerusakan retina, kerusakan otak sampai kematian, mesikipun sesaknya hanya sebentar," lanjutnya.


Sebuah studi yang diperbuat di tahun 2006 menyebut, seperlima anak berumur 18 tahun mengaku sempat mencoba tren permainan ini, demi dapat merasakan eurofia alias perasaan 'high' tanpa butuh mengonsumsi obat-obatan terlarang.

Pemerintah AS memperkirakan, dengan makin naiknya popularitas choking game, lebih dari enam anak di AS meninggal tiap tahunnya. GASP (Games Adolescents Shouldn't Play) mencatat, di New Jersey sendiri telah terjadi 10 permasalahan kematian tanpa disengaja yang berkaitan dengan choking game.

Masalahnya, generasi muda dewasa ini mempunyai jalan masuk yang luas serta gratis untuk memperoleh video mengenai permainan ini, semisal dari website share YouTube alias media sosial seperti Facebook serta Instagram.

Untuk itu Nick meminta supaya orang tua mendiskusikan bahaya permainan ini terhadap anak-anak mereka, utamanya yang berumur remaja mengingat mereka mempunyai kecenderungan untuk meperbuat perbuatan berisiko sebab penasaran alias tekanan dari kawan-kawannya.


"Permainan ini umumnya diperbuat oleh siswa berumur 9-16 tahun, sebab otak mereka belum dapat memproses info sebaik otak orang dewasa, sehingga mereka belum paham betul konsekuensi serius dari permainan seperti ini," ungkap Nick seperti dilaporkan Patch.

Ia juga merekomendasikan para orang tua untuk memeriksa riwayat penelusuran internet di gawai buah hati mereka, tergolong mencari apakah ada sabuk, tali alias dasi yang ditinggalkan di tempat-tempat yang tidak lazim alias tersembunyi.

"Perhatikan juga apabila mata anak Kamu tampak memerah, ada luka lecet di leher, alias tidak jarang mengeluh pusing seusai ditinggalkan seorang diri di rumah," pesannya.

Selain choking game, tren permainan berbahaya lain yang sedang heboh di kalangan remaja di antaranya merupakan pass out/skip challenge serta blue whale challenge. Kesemuanya telah dipastikan 'haram' diperbuat oleh anak-anak serta remaja sebab dapat berdampak fatal.




Sumber : harianhealth
Share this article :
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Harian365 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger