Peneliti Ingin Manfaatkan Musik untuk Terapi Pasca Stroke

Written By admin on Sabtu, 15 April 2017 | April 15, 2017


harian365.com - Siapa sih yang tidak suka musik? Terlepas dari apapun genrenya, dapat dikatakan semua orang menyukai musik. Dari sini peneliti terinspirasi untuk memakainya sebagai terapi kesehatan.

Merupakan peneliti dari Murdoch University, Perth. Menurut mereka, otak rutin 'menggila' ketika mendengar musik. 'Menggila' di sini bermakna positif.

"Tak heran ketika kami mendengar lagu alias sepenggal musik, kami bakal mulai menghentakkan kaki alias menjentikkan jemari," kata salah satu peneliti Ann-Maree Vallence.

Itu mengindikasikan adanya hubungan yang kuat antara tahap otak yang bertugas mencerna rangsangan auditori semacam musik dengan tahap otak lain yang berperan dalam menghasilkan gerakan tubuh.

Untuk itu, Ann-Maree serta timnya ingin mekegunaaankan respons alamiah otak kepada musik ini untuk menolong menstimulasi aktivitak otak, utamanya pasca serangan stroke.

"Salah satu tipe stroke yang paling tidak jarang ditemui merupakan 'middle cerebral artery stroke', di mana terjadi penyumbatan yang mempengaruhi tahap otak di balik performa motorik alias pergerakan," ungkapnya.

Tetapi Ann-Maree serta timnya tetap wajib meperbuat percobaan untuk memastikan apakah potensi ini betul-betul dapat dikegunaaankan. Untuk saat ini, mereka sedang meperbuat perekrutan partisipan, utamanya pasien stroke kronis setidak sedikit 20 orang. 

Mereka bakal diminta ambil tahap dalam suatu  terapi memakai software handphone pintar bernama GotRhythm. Software ini sendiri dikembangkan peneliti dari University of Western Australia.

Software ini terhubung dengan sensor-sensor nirkabel yang bakal dipasangkan ke kedua lengan serta tangan partisipan. Ketika softwarenya diaktifkan, partisipan dilatih untuk menggerakkan tangannya selagi 30 menit. Latihannya sederhana saja, semacam mengambil gelas. Kemudian musiknya baru diperdengarkan seusai partisipan berhasil menyelesaikan latihannya.


Nantinya aktivitas otak partisipan bakal diukur sebelum serta setelah sesi latihan, untuk menonton apakah ada perubahan berarti. Mereka berharap 'reward' yang diberbagi pada otak partisipan seusai berhasil menyelesaikan latihannya bakal merangsang otak. Serta apabila faktor ini diperbuat dengan cara selalu, mereka pun meyakini terapi ini dapat mengembalikan kegunaaan motorik partisipan.

"Mesikipun tidak dapat memulihkan tahap otak yang rusak sebab stroke, setidaknya bakal ada tahap otak lain yang mengkompensasikannya," imbuh Ann-Maree.

Menurut timnya, bila percobaan ini memang berhasil, maka mereka dapat mengembangkan terapi untuk pasien pasca stroke berbasis rumahan yang selain terjangkau tetapi juga mempermudah pasien.

"Yang tentu ini bakal membahagiakan serta mereka bahagia meperbuatnya jadi lebih bersemangat untuk berlatih," tutupnya.




Sumber : haianhealth


Share this article :
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Harian365 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger