Home » , , , , , , , , , » Parasetamol Bervirus Bikin Ruam dan Lepuh? Jangan Langsung Percaya

Parasetamol Bervirus Bikin Ruam dan Lepuh? Jangan Langsung Percaya

Written By admin on Sabtu, 08 April 2017 | April 08, 2017


harian365.com - Santer beredar berita bahwa parasetamol tipe baru, Paracetamol P-500 bisa 'disusupi' virus berbahaya yang disebut virus Machupo. Dalam broadcast itu juga diperlihatkan gambar dua pasien yang diklaim terkena virus Machupo.

Kedua pasien dilaporkan berasal dari Jaipur, India dan menunjukan gejala semacam ruam alias luka melepuh di sekujur tubuh. Bahkan pada pasien wanita terkesan wajahnya membengkak.

Luar biasanya, literatur menyebut virus Machupo sebetulnya memicu penyakit yang sejenis dengan demam berdarah alias malaria, yaitu demam, sakit kepala, kelelahan dan nyeri otot. Artinya, gejala yang terkesan pada gambar broadcast dengan gejala virus Machupo yang sebetulnya tidaklah sesuai.

Dilihat dari gejalanya, kedua orang yang diperlihatkan dalam gambar broadcast lebih tepat dengan gejala Steven-Johnson Syndrome (SJS). 

WebMD menyatakan, SJS merupakan reaksi yang sangat kurang baik dampak meminum obat tertentu alias sederhananya sebab alergi obat. Kemunculannya tidak jarangkali tidak terduga dan kadang-kadang mematikan. 

Pada awalnya, penderita SJS mengalami demam dan semacam bakal flu, lalu kemarin hari kemudian timbul gejala SJS yang sebetulnya, di antaranya:

- kulit melepuh semacam habis terbakar dan pada berbagai permasalahan hingga terkelupas
- luka melepuh di kulit, mulut, hidung dan kemaluan
- mata memerah dan berair disertai rasa sakit

Apa penyebabnya? Disebutkan bahwa ada lebih dari 100 tipe obat yang bisa memicu SJS. Yang paling tidak jarang ditemui merupakan obat pereda nyeri semisal acetaminophen dan ibuprofen; obat untuk asam urat; dan obat untuk meredakan kejang.

Kendati begitu, SJS termasuk langka. Seseorang baru rentan terserang SJS apabila sempat mengalami persoalan pada sistem imunnya semisal mengidap HIV; sempat terkena SJS juga sebelumnya; mewarisi gen tertentu dari orang tuanya; dan pada orang-orang yang sedang menjalani pengobatan radiasi.


Berbagai waktu lalu, dr Zakiudin Munasir, SpA(K), Ketua Divisi Alergi dan Imunologi FKUI-RSCM sempat membahas bahwa alergi obat pada anak bisa timbul sebab anak tidak jarang diberi obat tiap kali jatuh sakit, walau belum pasti membutuhkan.

Ia mencontohkan pemakaian antibiotik yang berlebihan pada anak. "Jadi di sistem imun ada namanya sel T helper. TH1 ini untuk antibodi infeksi, dan TH2 untuk antibodi alergi. Kalau TH1 ini sangat kuat, maka TH2 bakal melemah yang membikin anak menjadi lebih mudah alergi," tuturnya.

Padahal pada prinsipnya, antibodi TH1 dan TH2 wajib seimbang. Tetapi ketika antibiotik dikonsumsi dengan cara berlebihan, bisa sehingga antibodi si anak malah bakal hilang sebab antibiotik selain membunuh kuman jahat, tetapi juga kuman baik. "Kalau seluruh kuman hilang, antibodi tidak ada pekerjaan. Akhirnya tubuh sehingga tidak memproduksi lagi," ungkapnya.

Tetapi dr Zaki memberi tau, bukan berarti antibiotik wajib dihindari sama sekali. Yang paling penting, pemakaiannya wajib tepat guna dan tepat dosis, dan wajib disertai dengan resep dokter.

Oke, sehingga telah jelas bukan bahwa berita parasetamol bervirus itu tidak benar? Lagi pula Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah memastikan apabila info adanya parasetamol bervirus ini merupakan hoax alias tidak benar.




Sumber : harianhealth

Share this article :
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Harian365 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger